Assalamualaikum.. Dear Mbak Hanum,
Perkenalkan saya Nina. Saya br aja kmrn sore beli buku tulisan Mbak Hanum di Gramedia Grand Indonesia dan Alhamdulillah sdh khatam siang tadi.Buku yg inspirasional.Sblmnya saya smpt maju-mundur utk beli buku ini,lbh trtarik beli buku metro-pop atau chicklit smacemnya.Tp trnyata buku ini justru memberikan lbh banyak faedahnya.Gak hanya mengisi wkt luang saya menunggu pengumuman penempatan CPNS,tp justru isi buku ini yg sgt menginspirasi rasa ttg keberanian seorang Amien Rais yg tak pernah padam. Sungguh alur cerita dan tutur bahasa yg Mbak Hanum pakai bs membuat saya seakan ikut masuk merasakan situasi yg trgambar di sana.Saya sempat terharu saat membaca chapter “Detik-detik yang menentukan” dan “Akhir sebuah drama”.Lewat buku Mba Hanum ini saya jd lebih bersyukur juga punya keluarga,ayah-ibu-adik yg penuh cinta.Krn gak semua org bs menikmati karunia yg seperti kita terima ini ya,Mbak?even bpk saya bkn politisi atau saudagar kaya hehe..
Anyway,terima kasih banyak ya Mbak Hanum,untuk berbagi tentang keberanian,kegigihan dan cinta.I heart this book.
Ternyata saya gak nyesel naruh kembali novel2 chicklit di rak dan memilih buku ini untuk dibayar di kasir.Hehe..
Oh iya Mbak,tolong sampaikan salam saya untuk Ibu Amien.I admire her.
Wassalamualaikum
PS: Thanks nina. Mudah2an suatu saat kita bisa ketemu
sumber : notes FB Hanum Rais
Showing posts with label Jejak Amien Rais. Show all posts
Showing posts with label Jejak Amien Rais. Show all posts
5 Mar 2013
Detik-detik yang menentukan
Kehidupan bersahaja ditengah kekacauan
Assalamu'alaikum.
Membaca nukilan buku karya Hanum Salsabila Rais, Puteri Tokoh Reformasi Indonesia, Prof. DR. Amien Rais, MA ini seperti membaca sebuah kehidupan yang bersahaja dan sederhana ditengah 'zaman kacau' Indonesia. Sebuah oase bagi anak-anak muda untuk rajin berkaca dan berhenti sejenak meneguk perigi keteladanan dari sisi lain sang tokoh akademisi-politisi terkemuka Indonesia. Tutur kata penulisnya jernih, mengalir, lugas dan bersahaja.
Secara pribadi, saya beberapa kali berkesempatan bertatap muka dan bertukar-pikiran dengan Pak Amien. Sama ada ketika masih di Jambi, menimba ilmu di Jawa Timur, pun pada sebuah dialog lesehan di KBRI Cairo. Saya bukan orang politik atau aktivis ormas mana pun. Hanya suka belajar dari banyak orang di mana pun dan kapan pun.
Nukilan dibawah ini sudah mendapat izin dari Mbak Hanum dan suaminya, Mas Rangga Almahendra yang tengah menimba ilmu di Linz, Austria. Terima kasih. Semoga kebaikan Allah melimpahi mereka berdua. Shoukran.
Wassalam
Terimakasih untuk mas Ahmad David Kholilulrrahman, untuk sharing excerpt buku saya melalui facebook dan mailing list, semoga Allah Swt membalas kebaikan mas Ahmad, Jazzakumullah khairan katsiraa.
Hanums
sumber : notes FB Hanum Rais
Surat Kangen buat pak amien
SURAT KANGEN BUAT PAK AMIEN :)
Surat tidak mengalami editing
ASSALAMUALAIKUM Wr. Wb
Apa kabar pak amien? Semoga ALLAH senantiasa melindungi pak amien dan keluarga. Perkenalkan terlebih dahulu, nama saya M Nurdiana. Saat ini saya sedang duduk d bangku perkulihan semester I jurusan hubungan internasional universitas muhammadiyah malang. Saya menulis surat ini hanya sekedar ingin melepas rindu pada pak amien. Mengingat bahwa saya mengagumi pak amien dari kelas 6 SD.
Saya bahkan masih ingat pertama kali saya bertemu pak amien di sela-sela padatnya jadwal pak amien berkampanye untuk pemilu 2004. Pesisir pantai surabaya – kenjeran – sukolilo. Saya dan teman-teman yang saat itu masih duduk di bangku kelas 6 SD muhammadiyah 25 surabaya pergi mengayuh sepedah kecil kami menuju pesisir pantai yang jaraknya berpuluh-puluh kilometer dari sekolah. panas dan keringat – tapi kami tetap semangat mengayuh sepedah kecil kami menuju pesisir pantai hanya untuk memamerkan sebuah coretan di atas kertas karton putih yang bertuliskan “KAMI MENDUKUNG PAK AMIEN RAIS SEBAGAI PRESIDEN RI 2004”. 2 jam kiranya kami semua menunggu kedatangan pak amien ke sukolilo. Hingga kemudian terdengar sirine polisi yang menandakan bahwa orang penting itu telah datang – ya – pak amien datang, diantar mobil mewah berwarna hitam. Bapak turun dari mobil dan segera menempati kursi yang telah disediakan oleh panitia. Dan kami – bocah-bocah cilik SD muhammadiyah 25 – berdiri mengusap keringat lalu membentangkan karton putih itu agar pak amien bisa membacanya. Benar saja pak amien melirik kami, mungkin karna kami satu-satunya bocah cilik yang hadir dalam form muhammadiyah itu. pak amien tersenyum – mengacungkan jempol lalu mengangguk – seolah berkata ‘bagus’ pada kami. Apa pak amien tahu? betapa senangnya kami melihat kode itu dari kejauhan. Ya – kami hanya bisa berdiri melihat pak amien dari jarak 25 meter karna ketatnya pengawasan terhadap pak amien.
saya bahkan masih menyimpan puluhan postcard bergambar amien-siswono yang dibagikan setelah acara tersebut. esoknya, kami juga mendapat stiker bergambar pak amien -- dan saya langsung menempel stiker-stiker itu di tembok depan rumah. orang-orang kampung yang awam akan pak amien, dengan tak bertanggung jawab merobek nya. lalu berkata, "opo iki? amien rais? gak payu!(gak laku)". sakit hati saya mendengar itu. saya yang waktu itu masih berumur 14 tahun, hanya bisa marah -- keluar rumah dan langsung 'misuh' (mengucapkan kata kasar&kotor khas surabaya). saya memang masih bocah SD..tapi apa salahnya jika saya nge-Fans sama pak amien? saya membela pak amien, bukan karna pak amien orang muhammadiyah -- tapi karna pak amien ganteng !! yaa -- itulah yang ada dipikiran saya waktu masih duduk di kelas 6. kenapa orang-orang kampung ituu gak bisa ngerti? dan sekarang -- 6 tahun setelah pemilu 8 juli 2004, saya membeli novel biografi tulisan mbak hanum -- dan konyolnya saya jadi kangen pak amien lagi :)
singkat cerita, saya hanya ingin bertanya, kemana kah pak amien sekarang?
pak amien yang dulu berkoar-koar menuntut reformasi -- pak amien yang kemarin mengkritik pemerintahan SBY..apa yang akan pak amien lakukan lagii melihat banyak mahasiswa berusaha menurunkan pak SBY?
pertanyaan inii yang sering teman-teman saya tanyakan ketika saya membaca novel biografi tulisan mbag hanum ..
saya bingung mau menjawab apa? sementara, mereka yg bertanya -- sebagian mengaku pernah mengagumi pak amien --
jika sempat, saya berharap besar, pak amien mau membalas surat saya -- atau mungkin sekedar berkunjung ke kampus saya -- sekalian ngobatin kangen saya pak :)
sekian surat dari saya -- terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca surat kangen saya ..
salam rindu,
M Nurdiana
nb : surat ini, insyaallah akan saya kirim ke alamat rumah pak amien di yogyakarta :)
source : notes FB Hanum Rais
Surat tidak mengalami editing
Sosok pak Amien mengingatkan pada Bapak saya
Kekaguman Henry pada pak Amien Rais mengingatkan dia pada bapaknya.
Kak Hanum, perkenalkan saya Henry, 24 tahun dari Wonosari Gunungkidul Jogjakarta. Saya mengidolakan Pak Amien sejak saya masih duduk di kelas 6 SD. Melihat sosok fisik Pak Amien, saya selalu teringat dengan Bapak saya. Bapak saya Guru SMP, warga Muhammadiyah di Gunungkidul, serta mengidolakan Pak Amien pula.
Oh ya kak, saya juga pernah jadi reporter seperti kakak. Saya bekerja sebagai reporter di Radar Jogja. Saya pernah berkunjung ke kediaman kakak untuk wawancara dengan Pak Amien (bersama teman-teman wartawan yang lain). Saat itu, kami wawancara soal RUU Keistimewaan DIY. Saya bekerja sebagai reporter selama dua tahun, sebelum pada akhir April 2010 kemarin, saya harus mematuhi permintaan ayah dan ibu saya untuk menjadi Guru. Saya sekarang menjadi Guru PNS di salah satu kecamatan di Banyumas.
Saya baru saja membaca buku tulisan kak Hanum. Buku itu rampung saya baca berselang dua jam setelah saya membeli.
Sebelumnya, saya juga sudah membaca buku Pak Amien, Selamatkan Indonesia. Buku itu favorit saya. Sudah sejak dua tahun yang lalu saya membeli dan memulai membacanya, tapi sampai sekarang belum selesai memahami semua isi buku itu. hehehee..
Kak Hanum, saya menunggu lanjutan dari buku Kak Hanum. Saya yakin masih banyak kisah seputar kehidupan Pak Amien yang menarik untuk disimak.
Oh ya kak, ada rencana untuk menggelar acara bedah buku di Jogja/Purwokerto? soalnya kemarin-kemarin saya tidak ikut. Saya tunggu ya kak.
Terima kasih Kak Hanum, salam.
source : notes FB Hanum Rais
Menemukan Jawaban
Dibuku ini, R menemukan jawaban dari informasi yang hanya dia dengar dari dosennya.
Yang Terhormat Mbak Hanum Rais Di Tempat
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Apa kabar mbak Hanum? Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya bagi Mbak sekeluarga.
Nama R****. Saya sekeluarga adalah pengagum tokoh Amien Rais. Sejak saya kecil, Bapak saya sangat mendukung gerakan Reformasi yang diusung Bapak Amien. Bapak saya yang juga seorang muhammadiyah sejati tentunya tahu bahwa Pak Amien adalah seorang muslim yang bersih, juga seorang figur yang sangat cocok untuk menjadi pemimpin negeri ini. Waktu itu saya yang masih kecil, selalu beranggapan bahwa apa yang disukai Bapak saya adalah hal yang baik. Karena itu saya juga ikut-ikutan mengagumi Bapak mbak Hanum karena alas an yang simple, karena menurut Bapak saya beliau yang terbaik.
Saat saya berumur 13 tahun, saya kecewa ketika idola saya tersebut kalah dalam Pemilihan Umum. Waktu itu saya ingat Bapak saya berkata, “Orang kurang menyukai tokoh yang lurus, Mbak.” Akhirnya mau tidak mau saya memandang skeptis pemerintahan negeri kita. Saya yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang politik, berniat untuk tetap memilih Amien Rais lagi bila saya sudah cukup umur untuk mencoblos. Sayang sekali, tahun lalu Bapak Amien Rais tidak ikut mencalonkan diri menjadi presiden.
Saat lulus SMA saya sempat ingin masuk fisipol UGM hanya karena Bapak saya bilang Pak Amien adalah Guru besar disitu. Saya berpikir barangkali saya bisa beruntung menjadi mahasiswa beliau. Namun karena saya lulus dari jurusan IPA, saya akhirnya memilih untuk kuliah di Teknik, sebelum akhirnya saya diterima di kampus saya sekarang.
Saya sekarang bersekolah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, semester 2. Di semester ini, saya mendapatkan mata kuliah Kewarganegaraan. Dosen saya, adalah pecinta orde baru sejati. Saya menyebutnya begitu karena Dosen saya ini begitu mengagumi sosok Pak Harto, dan seringkali menyebut dan menjelek-jelekkan Amien Rais. Beliau menyebutkan beberapa fakta yang menurut saya sangat tidak berdasar dan saya agak terganggu oleh cerita beliau.
Namun Allah seperti mengetahui isi pikiran saya. Beberapa minggu kemudian saat saya ke Gramedia, saya menemukan buku mbak Hanum di rak buku terbaru. Langsung saja saya ambil dan saya baca ditempat. Pada halaman awal saya tanpa sadar meneteskan air mata karena sosok Bapak yang ditampilkan mengingatkan saya pada Bapak di rumah. Maklum, kuliah di luar kota membuat saya jauh dari kedua orang tua saya. Betapapun homesicknya saya disini,semua ini demi bakti saya kepada Bapak dan ibu dirumah. Saya juga anak seorang dosen seperti mbak Hanum. Bapak saya tidak pernah mengajarkan untuk berfoya-foya,kecuali untuk pendidikan.Saya paham betul rasanya tidak membeli mainan seperti teman sebaya tapi dibelikan buku. Tapi saya sekarang merasakan manfaat yang besar dari kebiasaan Bapak saya membelikan buku saat saya masih kecil itu.
Saat itu, saya ingin melanjutkan membaca tapi saya belum mendapat kiriman uang. Saya lalu bertanya pada Bapak via facebook, bahwa saya ingin membeli buku itu. Bapak bilang, selama buku itu bermanfaat, beli! Nanti Bapak ganti uangnya. Akhirnya saat ulang tahun saya yang ke-19 pada 12 mei lalu saya membelinya sebagai kado untuk diri saya sendiri.
Saya sangat suka dengan tulisan mbak Hanum yang begitu jujur dan mampu membuat saya tertawa lalu meneteskan air mata,terhanyut bersamanya. Saya menemukan jawaban atas tuduhan yang dilontarkan dosen KWN saya dikelas. Saya percaya faktanya bukan seperti yang beliau paparkan. Saya lega karena saya mendapatkan jawabannya.
( . . . )
Sekian surat dari saya. Semoga apa yang saya kisahkan dalam surat ini bermanfaat bagi Mbak dan dengan segala kerendahan hati saya mohon maaf bila ada kata-kata yang menyinggung Mbak. Terimakasih karena mbak sudah membuat buku yang membuka cakrawala saya. Semoga Mbak Hanum selalu dilimpahi rahmat dan Hidayah Allah. Amin.
Wabillahi taufiq walhidayah, wassalamualaikum warahmatullah wabrokatuh.
source : notes FB Hanum Rais
Terinspirasi dari menapak jejak amien rais
Tulisan ini kami sadurkan ulang (tanpa editing) untuk memberi inspirasi kepada sahabat HR. Semoga bermanfaat
Assalamu'alaikum mbak Hanum.
Perkenalkan nama saya **** dari Magelang, Jawa Tengah. Saat ini saya duduk di kelas XII SMA. Sebelumnya, saya ucapkan selamat atas buku yg mbak tulis. Di sini saya hanya ingin berbagi sedikit tentang tanggapan saya mengenai buku "Menapak Jejak Amien Rais". Sebagai remaja yg baru saja 17 tahun, saya sangat terinspirasi dgn buku tsb. Memang, sampai saat menulis pesan ini, baru 2 bab yang sempat saya baca, dan insyaallah mampu saya pahami dgn baik. Tetapi, justru di bab 2 inilah emosi saya diombang-ambingkan. Kadang ikut emosi, tapi tiba2 mata berair.
Dan karena buku inilah saya harus mampu menerapkan apa yg dinamakan konsistensi. Ketika pertama kali bapak saya memperlihatkan buku ini, dan sekilas membaca judulnya, dari dalam hati seperti tertantang untuk menggiatkan diri terus menulis. Sampai2 saya dg spontan bilang pada Bapak,"Pak, besok saya buatkan buku juga ya, biar kaya mbak Hanum".
Ketika membaca buku ini, entah mengapa justru sering sekali pikiran ini tergelitik. Pernah beberapa kali saya ingin menjadi bagian dari politik dan berabung dg parpol. Motivasi itu muncul karena menurut saya, partai adalah komunitas dengan permasalahan yang komplek. Apalagi bapak juga aktif dalam partai. Buku inilah yang sepertinya makin "ngiming-imingi" saya dengan hal2 yg berbau politik, bukan malah membuat saya makin antipati dengan politik.
Tapi Mbak, esensi dalam buku ini pastinya adalah bagaimana keluarga itu berdiri di atas pondasi agama dan kepercayaan. Terima kasih mbak atas buku dan segala inspirasinya. Semoga buku ini juga mampu memotivasi remaja lain dalam upaya pendewasaan diri dan pencarian jati diri.
Wassalamu'alaikum.. ?
sumber : notes FB Hanumrais










