New Movie Faith and the City

Kelanjutan kisah perjalanan di buku sebelumnya, Bulan Terbelah di Langit Amerika. Mengangkat topik tentang peran media massa dalam mencitrakan Islam di mata dunia

Kuliah Hak Segala Bangsa

Kuliah kilat gratis...tis...tisss... yang bisa diakses kapan saja, dimana saja hanya di Youtube KHSBPositivi

2 Feb 2013

Komentar berjalan diatas cahaya

Berikut ini adalah komentar dari beberapa tokoh* mengenai buku "Berjalan di Atas Cahaya"
““Seru! Jalan-jalan ke Eropa dan dapat kisah inspiratif ‘hanya’ seharga buku ini. Beneran!”
K.H. Yusuf Mansur
Udztad, pemandu acara TV "Wisata Hati", pemilik




“Sebagai moslem designer, saya suka traveling. Saya sangat suka cerita Mbak Hanum, dkk. yang inspiratif, khususnya memberi perspektif baru tentang traveling yang harus diniati mencari rida Allah.”
Dian Pelangi
Moslem Designer




“Tidak mudah menghadirkan buku berbeda di tengah maraknya buku-buku bertema traveling. Dalam buku ini Hanum Rais, Tutie Amaliah, dan Wardatul Ula memberikan alternatif dengan pendekatan berbeda, komunikatif dan akrab, serta membekali pembacanya."
Asma Nadia
Novelis Cinta di Ujung Sajadah



*gambar-gambar para tokoh diambil dari beberapa website yang ada didunia maya (bukan koleksi pribadi).

1 Feb 2013

Sinopsis Berjalan di Atas Cahaya


Ivano terduduk. Kepalanya tertunduk di depan pintu gereja. Sudah tak terhitung berapa orang turis di katedral Palermo yang berjubel-jubel harus menabrak tubuhnya yang menghalangi sebagian badan jalan masuk gereja. Tapi Ivano bergeming. Dia masih terus menatap pilar putih di depan katedral kota para mafioso Eropa itu. Semua yang dikatakan Raghi benar adanya.

Ivano menangis membaca tulisan berwibawa itu. Kali ini sirna sudah kebenciannya atas Sisilia dan Raja Roger. Tiba-tiba ia menyesali semua prasangka buruk tentang nestapa negerinya. Terbaca jelas tulisan yang terukir di pilar katedral Palermo: Bismilillahirrahmaanirrahiim, alhamdullilahirabbilaalamiin.

*****

“Dan Allah menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan, dan Dia mengampuni kamu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hadid: 28)

Berjalan di Atas Cahaya adalah kumpulan kisah perjalanan di Eropa yang akan membuat Anda lebih mengenal ampunan dan kasih sayang Tuhan melalui makhluk ciptaan-Nya.

Buku tersedia  di toko gramedia terdekat atau pesan melalui hanumrais.com

13 Mar 2012

Benang Kusut Transportasi Jakarta


Ada seorang teman bikers mencak2 dengan adanya kebijakan pemerintah yg melarang motor lewat jalan2 protokol jakarta...sementara teman yang lain justru menyalahkan pengendara motor yang selama ini dianggapnya ugal2an dan bikin makin semrawut Jakarta. Lalu terlibatlah mereka dalam debat kusir yang mestinya tidak perlu.Motor yang ugal2an atau jumlah mobil yang makin tidak terkendali sebenernya cuma excess dari tidak matangnya kebijakan perencanaan transportasi public..karena ga ada mass rapid transportation.. jadinya masyarakat ya berinisiatif sendiri2 cari solusi buat berpergian..ada yang milih pake motor..beli mobil..atau naik bajaj. Rasa2nya kebijakan mutakhir pemerintah ttg sepedamotor, rencana penghapusan 3in1 dan pemberlakuan ERP cuma kebijakan responsif, tambal sulam, gali tutup lubang...ibarat rumah, kehujanan, gentengnya pada bocor malah sibuk ngepel sana-sini.Jadi malu ma inggris yang sudah mulai mbangun underground tunnel tahun 1860..padahal waktu itu cuma ada kereta kuda..potensi problematika city traffic sudah mulai dipikirkan jauuuh sebelum ditemukan mobil...Baru sekarang aja tuh sutiyoso teriak2 monorail..cuma dah telat bang...jerman udah punya monorail sejak tahun 1901..coba deh bayangkan efektifnya MRT di singapore..katanya hampir 50rb passenger setiap hari...n emang kuenceng dan efisien banget..bisa jadi dari senayan city ke plaza semanggi bisa dicapai dalam satu tarikan nafas aja...Hemmm Ga kayak sekarang, umur dan produktivitas rasanya ikut menguap bersama deru knalpot dijalanKritik juga nih buat sebagian oknum pemilik mobil dijakarta,ga bisa dipungkiri masih banyak orang yang pake mobil lebih ke alasan emosional (baca:gengsi)...susah juga, di Indonesia itu kan berlaku:witing tresno jalaran seko cacahing rodo..katanya sekarang punya motor aja ga cukup buat ngeggaet cewek..rasanya keren kalo udah pake mobil..apalagi pake truk gandeng yang rodanya 16..makanya heran juga ma perilaku orang2 kaya Jakarta itu.. sukanya beli mobil/motor yang ukuran segedhe goblok...makin sebel kalau udah liat jaguar or alphard petantang-petenteng makan jalan,padahal didalamnya cuma 1 orang (entah pemilik atau peminjam)...kenapa sih smart car ga segera masuk indonesia..orang eropa malah bangga lho bisa naik mobil yang ukurannya kecil..disamping lebih irit..juga praktis (ini lebih rasional).atau gimana kalo jaguar bikin mobil 3 wheeler versi bajaj..kira2 laku ga ya?..hmm.Kemarin baca dikompas..katanya presiden Swiss setiap hari kalo kekantor naik transportasi publik..egaliter banget...beda banget ya ma pejabat kita.yang maunya dikawal iring2an voreijder sampai nutup jalan dan bikin kemacetan berkilo2...hmmm sudahlah mungkin ada baiknya pejabat yg kayak gitu kita lemparin aja pakai bajaj...


Quoted from Rangga Almahendra Blog)

4 Nov 2011

Lomba 99 Cahaya di Langit Eropa



Hai semuanya,kali ini hanumrais.com mengadakan lomba buat kamu-kamu yang sudah memiliki dan membaca novel karya hanum rais yaitu "99 Cahaya di Langit Eropa".
Info selengkapnya baca dibawah ini ya..

Lomba Resensi 99 Cahaya di Langit Eropa

1. Menulis resensi 99 Cahaya di Lanit Eropa di Media Cetak
  • Resensi buku 99 Cahaya di Langit Eropa untuk dimuat dimedia cetak baik lokal, nasional, maupun internasional.
  • Kirim pindaian(scan) / foto resensi yang dimuat (lengkap nama media, tanggal terbit resensi) melalui email ke:
    99cahayadilangiteropa[at]gmail.com ,
    cc : wahyu[at]gramediapublisher.com
    Pindahaian /foto harus jelas dan dapat dibaca.
  • Penilaian Juri berdasar luasnya skala edar media yang memuat resensi dan kualitas tulisan. Semakin luas skala edar media akan mendapatkan penilaian lebih tinggi.
2. Menulis Resensi 99 Cahaya di Langit Eropa di Internet
  • Resensi buku 99 Cahaya di Langit Eropa di media portal di internet (misalnya: okezone , kompas , detik, dan lain-lain)
  • Kirimkan link untuk melihat resensi tersebut melalui email ke :
    99cahayadilangiteropa[at]gmail.com,
    cc : wahyu[at]gramediapublishers.com
    Link resensi harus bisa diakses publik.
  • Penilaian juri berdasarkan kualitas resensi dan level media portal
3. Membuat video kreatif 99 Cahaya di Langit Eropa
  • Video kreatif tentang buku 99 Cahaya di Langit Eropa, dan kemudian di unggah di youtube, vimeo, atau website video porta/sosial media lainnya.
  • Kirimkan link untuk melihat resensi tersebut melalui email ke :
    99cahayadilangiteropa[at]gmail.com,
    cc : wahyu[at]gramediapublishers.com
    Link resensi harus bisa diakses publik.
  • Penilaian juri berdasarkan kualitas kreativitas video dan respon dari viewer
» Batas akhir pengiriman e-mail untuk semua kategori adalah 30 April 2013
» Setiap e-mail yang dikirimkan peserta harus disertai keterangan kategori lomba yang diikuti dan dilengkapi dengan data diri (nama, alamat, no.hp, dan lain-lain)
» E-mail mohon dikirim hanya satu kali. E-mail yang berulang tidak akan diperhitungkan.
» Kompetisi ini berlaku untuk perioda Desember 2012 sampai April 2013
» Pada akhir perioda akan dipilih satu orang pemenang untuk mendapatkan tiket gratis umrah bersama 99 Cahaya di Langit Eropa, bekerjasama dengan ALISAN Tour and Travel
» Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat
» Hadiah tidak dapat dipindahtangankan dan tidak dapat diuangkan.
Informasi lebih lanjut di : lomba resensi gramedia pustaka

5 Sept 2011

3 Jam latihan, bule-bule kecil berani tampilkan tarian Indonesia

Hanum Salsabiela Rais – detikNews

Wina - Gerakan–gerakan tari Saman mereka rancak namun beberapa kali sempat bertubrukan. Tari Bambu mereka sungguh memukau, namun seorang anak sempat terjepit kakinya oleh hentakan bambu. Olah pencak silat mereka tampak lihai walau salah satu dari mereka sempat terkena pukul beneran.

Selain 3 kesenian tersebut Permainan Gendang Jawa, Permainan Cublak-Cublak Suweng, dan Angklung Kolintang berturut mereka peragakan dengan aneka polah dan tingkah yang lucu.

Itulah yang tergambar dari satu jam penuh acara Tampil Budaya Indonesia oleh anak-anak SD Volksschule Montesori Schule Alma Seidlerweg, Wina Austria beberapa waktu lalu.

Anak-anak usia 6-11 tahun ini sangat antusias memperagakan kesenian dan tradisi dari Indonesia meski hanya berlatih kilat selama kurang lebih 3 jam saja. Sebelumnya, KBRI Wina bekerjasama dengan Volksschule Montesori Schule Alma Seidlerweg telah mengadakan penjajakan Schulkultur lewat pelajaran Geografi.

Dengan mengambil jam pelajaran Geografi inilah, pengenalan terhadap bangsa dan budaya Indonesia dilakukan. Usai pengenalan dan workshop, terbersit ide oleh para guru SD dan KBRI Wina untuk mempertontonkan kebolehan anak-anak di depan wali murid sepulang sekolah. Jadilah, walau hanya mendapat pengarahan dan latihan selama beberapa jam saja, anak-anak tampil maksimal pada sore harinya. Bahkan aula yang menjadi tempat penyelenggaraan penuh dengan pengunjung.

"Hampir semua orang tua murid datang melihat penampilan anak-anaknya. Ini benar-benar tidak diduga," demikian ujar Astrid salah satu guru SD.

Betapa pun, 3 jam latihan untuk usia anak memang tidak akan pernah menjamin hasil yang sempurna. Walhasil, dari setiap pertunjukan tarian atau permainan, anak-anak kecil ini sesekali melakukan kesalahan. Dus, membuat hadirin tertawa spontan.

"Ini luar biasa. Anak saya sepulang rumah tadi selalu mengatakan tentang Indonesia. Saya tanya mengapa kamu tertarik dengan Indonesia? Ia bilang,’Karena aku belajar tari Saman'," kata salah seorang wali murid.

KBRI Wina sendiri langsung mendapatkan tawaran dari beberapa sekolah privat untuk memberikan pengenalan Indonesia lagi. "Ya, ada guru dari SD lain yang menyaksikan dan menawarkan kepada KBRI Wina. Kita akan tindaklanjuti semester depan," demikian kata Gardina Kartasasmita dari KBRI Wina optimis.

Dalam sambutannya Sulistijo Djati, konselor KBRI Wina mengatakan bahwa melihat antusiasme anak-anak belajar budaya Indonesia membuat semangat semua orang Indonesia untuk terus menggaungkan nama Indonesia di kancah dunia.

Di akhir acara, anak-anak dan orang tua disuguhi makanan khas Indonesia yaitu aneka ragam jajan pasar. "Warna hijau makanan ini ( dadar gulung) tadinya membuat saya takut makan. Tapi ini warna hijau dari daun, jadi sangat sehat sekali," seru seorang anak kecil yang habis makan 2 dadar gulung.

Acara Schulkutur dan Tampil Budaya Indonesia ini adalah sebuah program yang dihidupkan kembali oleh KBRI Wina dan masyarakat Indonesia, setelah 3 tahun lamanya vakum.