New Movie Faith and the City

Kelanjutan kisah perjalanan di buku sebelumnya, Bulan Terbelah di Langit Amerika. Mengangkat topik tentang peran media massa dalam mencitrakan Islam di mata dunia

Kuliah Hak Segala Bangsa

Kuliah kilat gratis...tis...tisss... yang bisa diakses kapan saja, dimana saja hanya di Youtube KHSBPositivi

28 Dec 2008

Bule-bule Pecinta Budaya Indonesia

Hanum Salsabiela Rais – detikNews

Wina - Berawal dari promosi, warga Austria jatuh hati pada gamelan jawa. Ada yang menjadi pemain tetap grup gamelan Ngesthi Budoyo.

Adalah Alexander Fueller dan Regula Sutter. Dua orang warga Austria yang jatuh cinta dengan musik Gamelan.

Alexander dan Regula awalnya tak pernah menyangka keduanya akan menggemari musik karawitan ini. Semua berawal sekitar 6 tahun lalu ketika Alex, demikian Alexander biasa disapa, tengah menempuh studi musikologi. Ia mengikuti sebuah promosi gamelan Jawa yang diadakan di kampusnya.

"Saya penasaran, jadi saya ikut saja," ujar Alex.

Rasa penasarannya yang besar itulah yang membuat pria berusia 36 tahun ini ingin mencoba memainkan gamelan lebih lanjut.

"Lalu saya baru tahu kalau ada latihan gamelan setiap Jumat di Kedutaan Besar Indonesia," lanjutnya.

Gayung pun bersambut. Alex mengikuti latihan gamelan di KBRI Wina. Bahkan, ia mengajak serta Regula, kolega di kantornya untuk ikut bermain gamelan.

"Alex mengajak saya ke Kedutaan, dan menunjukkan apa itu gamelan," ujar Regula.

Regula pun akhirnya ketagihan memainkan musik Gamelan. "Saat pertama kali datang, saya bahkan langsung disuruh memainkan slenthem," kisahnya tentang salah satu karyawan KBRI yang memaksanya memainkan gamelan.

Bahkan Regula tak lagi sekedar memainkan slenthem. Ia kini menjadi pemain tetap gambang dalam grup gamelan Ngesthi Budoyo yang diorganisir oleh KBRI. Sementara Alex lebih memilih mempelajari bonang.

Saat ditemui dalam pagelaran Indonesian Food and Culture Festival, keduanya tampil mengesankan memainkan bonang maupun slenthem. Tak ada lagi kesan canggung saat mereka harus mendentingkan alat musik dari besi berwarna kuning itu. Menurut Regula, ada kenikmatan yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata ketika memainkan gamelan.

"Setelah saya memainkannya, ada energi yang mengalir untuk mengerjakan hal lain," ungkap Regula.

Selain pasangan Regula dan Alex, ada pula senior mereka, Reiner yang sudah berbilang tahun memainkan gendang. Pria berumur 40 tahun-an itu malah seorang dosen di sebuah universitas di Graz, Austria yang mengajar khusus alat musik gendang.

Menyaksikan Reiner memainkan kendang bersama tim gamelan dalam acara Indonesian Food and Culture Festival, tak ada yang menyangka, Reiner adalah seorang bule.

Hanya warna kulit saja yang membuatnya berbeda dengan pemain gendang professional di Jawa. Kepiawaian  Reiner menabuh gendang membuat KBRI Austria sering mengundangnya untuk menjadi pemain gendang dalam acara-acara resmi kenegaraan.

Di Austria, tak hanya gamelan Jawa saja yang populer. Gamelan bali pun menjadi target yang menarik buat para bule. Buktinya, di sini ada grup yang menamakan Gamelan Bali Altenberg. Terdiri dari 12 personil, grup gamelan ini bahkan sering manggung dalam bentuk konser kafe di Wina.

Tak hanya gamelan yang memikat orang bule. Tari bali juga digemari. Sebutlah Jana Vozábová, seorang wanita Republik Ceko yang lihai menari Bali. Ia bahkan pernah tinggal di Indonesia kurang lebih setahun untuk memperdalam bermain tarian Bali.

Saking cintanya terhadap budaya Bali, Jana pun mendirikan sebuah institusi bernama Kintari. Di Kintari, ia bersama beberapa kawannya mempromosikan budaya Indonesia lewat tarian dan seni pertunjukan yang sering digelar di Praha, ibukota Republik Ceko.

Tak hanya menari untuk dirinya sendiri, Jana bahkan membuka kursus tari Bali di Kintari. Lalu bagaimana dengan muridnya? Menurut Jana, ternyata makin banyak generasi muda di Ceko yang mendaftar untuk belajar menari Bali.

Bagaimana dengan generasi muda Tanah Air sendiri? Masihkah mereka peduli dengan gamelan, tarian atau apa pun kesenian Tanah Air di tengah gerusan budaya luar seperti sekarang ini?

Baik Alex, Regula, Reiner, Grup Altenberg, maupun Jana, mereka hanyalah sebagian kecil dari ratusan atau mungkin ribuan orang asing di luar negeri yang mencintai bahkan mendedikasikan hidupnya untuk menggeluti budaya Indonesia.

(sal/Rez) detiknews