New Movie Faith and the City

Kelanjutan kisah perjalanan di buku sebelumnya, Bulan Terbelah di Langit Amerika. Mengangkat topik tentang peran media massa dalam mencitrakan Islam di mata dunia

Kuliah Hak Segala Bangsa

Kuliah kilat gratis...tis...tisss... yang bisa diakses kapan saja, dimana saja hanya di Youtube KHSBPositivi

22 Jun 2014

Bulan Terbelah dengan hijabku

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarakatuh.

Dear Mbak Hanum,

Terima kasih atas kerja keras mbak Hanum dan mas Rangga dalam membuat novel “Bulan Terbelah di Langit Amerika” sebagai wujud karya untuk menularkan semangat ‘menjadi agen Islam yang baik’ khususnya bagi masyarakat Indonesia. Sebagai seorang mahasiswa yang sempat bermukim di Amerika Serikat selama 1 tahun semasa pertukaran pelajar jaman SMA dulu, saya dapat dengan mudah merasakan spirit of the story yang disuguhkan dengan sangat apik dan cukup menarik secara alur.

Saat saya ikut program student-exchange, saya sudah berhijab selama 6 tahun. Walaupun keputusan berhijab datang dari diri saya sendiri, saya juga sempat merasa bimbang untuk tetap berhijab, khususnya karena negara yang akan saya singgahi tersebut masih menyimpan bekasan pasca tragedi kemanusiaan 9/11. Beberapa teman saya ada yang memutuskan menanggalkan hijabnya, namun beberapa ada yang mempertahankannya. Saya termasuk yang mempertahankan. Saat itu, pikiran saya sederhana: jika saya dikirim utk menjadi duta perdamaian, maka semestinya saya mempertahankan hijab saya sebagai identitas muslim saya, dan saya harus siap dengan segala konsekuensi sekalipun saya sulit dapat teman, akan dicemooh dan sebagainya. Saya membangun keyakinan pada diri saya sendiri bahwa semakin orang mempertanyakan hijab saya, semakin saya punya kesempatan untuk menjelaskan wajah Islam yang sebenarnya sebagai agama yang cinta perdamaian.

Ternyata, hipotesis saya saat itu benar. Di AS, saya tetap menggunakan hijab saya ketika di sekolah, di lingkungan host family, komunitas, dan kemanapun saya pergi. Dengan mental semi-bonek anak SMA yang ingin coba-coba, saya aktif mengikuti banyak kegiatan baik bersifat sosial (volunteering), religi, atau lomba-lomba debat. Disanalah saya banyak berdialog dengan orang Amerika dari mulai yang liberal hingga religius Kristiani dan ternyata banyak dari mereka yang belum begitu memahami nilai dibalik penggunaan hijab yang saya kenakan. Dari sana saya banyak menyampaikan apa makna hijab, mengapa saya memutuskan memakai hijab, hingga konsep menjaga kehormatan wanita dalam Islam.

Tidak jarang saya menemui teman-teman yang terkadang memandang sebelah mata, menganggap bahwa menutup aurat sama dengan merendahkan “potensi fisik wanita” yang dapat diapresiasi orang lain. Tetapi mereka menerima saya dengan terbuka, bahkan ketika saya tidak pernah segan melayani pertanyaan-pertanyaan mereka, mereka semakin banyak bertanya dan pada akhirnya memahami bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan. Mereka bahkan mengapresiasi saya, melihat bahwa hijab yang saya kenakan cukup unik.

Saya juga pernah beberapa kali dicemooh oleh orang yg tidak saya kenal di jalan, mengatakan sumpah serapah dengan kata-kata “kasar” ala Amerika. Dan alhamdulillah-nya, teman saya yang saat itu pergi bersama saya (dia bukan Muslim) malah membela saya. Dia mengejar orang tersebut dan mengajaknya bicara sejenak, hingga orang yg menghina saya itu minta maaf. Saya sendiri bahkan baru sadar bahwa saya baru saja dicemooh setelah dia minta maaf – saking cepatnya kata-kata yang dia lontarkan.

Saya merasa pengalaman tersebut seperti layaknya keajaiban yang diberikan oleh Allah Swt apabila kita tetap bepegang teguh pada keyakinan kita, dengan niat mengharapkan ridho-Nya. Tidak hanya itu, sebuah keajaiban pernah lagi terjadi ketika saya sedang pergi ke bioskop bersama sesama teman-teman pertukaran pelajar dari Jerman, Brasil, dan China, tiba-tiba ada seseorang yang menyapa saya dan memberikan kartu namanya. Saya mencoba mengirimkan surel terhadap bapak-bapak yang usianya sekitar 40 tahunan tersebut dan ternyata dia adalah salah satu Muslim Amerika yg menjadi kontraktor sukses di Atlanta, Georgia. Dia menyapa saya karena dia tahu saya adalah muslim – dari jilbab yang saya kenakan (saya jadi teringat Q.S Al-Ahzab: 59 dimana jilbab dapat berfungsi untuk menjadi “identitas” bagi yang mengenakan). Saat itulah silaturahmi mulai berlangsung dan dia memperkenalkan saya dengan komunitas muslim di Georgia, bahkan sempat mengundang ke rumah. Sayangnya, undangan tersebut tidak bisa saya penuhi mengingat saya harus pindah host family dari Georgia ke Florida.

Perpindahan tersebut sempat membuat saya sedih dan kecewa, namun ternyata Allah Swt tak henti memberikan keajaibannya pada saya. Host mother saya yang baru adalah seorang Kristiani-Episcopalian yang pernah menikah dengan seorang muslim, dan hingga kini masih menjalin silaturahmi dengan keluarga mantan suaminya di Turki. Saya kaget ketika saya hendak izin sholat di kamar, dia memberikan sebuah sajadah berbulu kepada saya. Dia bahkan masih menyimpan sajadah milik mantan suaminya di rumahnya! Dia sangat menghargai saya, bahkan dia memperkenalkan saya kepada jemaat gereja Episcopal di dekat rumah, mengajak saya kepada kegiatan komunitas disana, sehingga saya berkesempatan untuk bertemu banyak orang non-muslim. Disanalah hostmom saya membantu saya menunjukkan image Islam yang cinta perdamaian kepada orang-orang disana, mengajak saya untuk ikut komunitas muslim West Palm Beach di Florida, hingga membantu membuatkan gaun prom yang syar’i untuk saya. Alhasil, saya berhasil membangun hubungan yang positif di sekolah, di lingkungan gereja, maupun di komunitas yang saya ikuti.

Apa yang mbak Hanum dan mas Rangga ceritakan dalam novel “Bulan Terbelah di Langit Amerika” mengingatkan saya akan pengalaman saya tersebut. Terlepas dari metode penulisan mixing antara fiksi dan non-fiksi tersebut, saya sangat mengapresiasi novel religi yang satu ini. Menurut saya, pesan yang disuguhkan bahwa falsafah nilai-nilai Islam memiliki peranan yang penting dalam kehidupan umat manusia lebih terasa kuat dibandingkan “99 Cahaya di Langit Eropa”, walaupun keduanya sama-sama menyentuh sisi spiritual pembaca. Saya sangat menikmati kedua novel mbak Hanum, dan saya berharap pencapaian yang cukup fenomenal sebagai novel National Best Seller ini tidak berhenti sampai disini.

Sebagai pengamat dan mahasiswa yang baru saja lulus kuliah, saya merasa bahwa PR kita sebagai agen muslim yang baik itu masih banyak sekali. Seiring kuatnya budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai “kebebasan”, tantangan bagi Islam untuk menunjukkan relevansinya terhadap perkembangan zaman pun semakin berat. Di satu sisi, budaya islami saat ini kian terkondisikan dengan adanya tren hijabers, meningkatnya produksi buku-buku, sinetron religi dan film bertema Islam, bahkan apresiasi terhadap artis Muslim yang berhijab. Namun di sisi lain, mulai maraknya pergaulan bebas, tinggal bersama antara ikhwan-akhwat sebelum menikah, dan budaya lainnya yg bertentangan dengan nilai-nilai Islam juga menyisakan pertanyaan dan tantangan bagi kita untuk menunjukkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Saya (yang kini masih jadi penulis amatiran) menyimpan harapan kepada mbak Hanum dan mas Rangga agar ke depan senantiasa mampu melahirkan karya-karya yang dapat menjadi pencerahan bagi masyarakat, khususnya bagi masyarakat Indonesia sebagai negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia yang menjunjung tinggi nilai demokrasi dan kesetaraan.

Seperti layaknya mbak Hanum yang pernah ragu mengirimkan CV kepada harian Heute ist Wunderbar, saya sendiri sempat ragu untuk mengirimkan surel ini sehingga anggap saja ini sebagai surat pembaca yang tidak sengaja nyasar. Mungkin juga surat saya ini satu dari sekian ribu surat pembaca yang masuk ke kotak surel mbak Hanum sehingga nilainya tidak seberapa. Apapun yang terjadi, saya hanyalah seorang pembaca yang peduli dan sangat mengapresiasi hasil karya mbak Hanum dan mas Rangga. Semoga surat ini dapat menjadi inspirasi, atau paling tidak dapat menjadi pembuka tali silaturahmi antara sesama pembelajar menjadi agen muslim yang baik :)


Akhirul kalam, Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh.

Dikirim oleh CINTA MAULIDA

20 Jun 2014

Kata Mereka Tentang Bulan Terbelah

Hanum Rais Management mengucapkan terimakasih kepada Sahabat Cahaya yang telah mengirimkan pengalaman yang mengispirasinya setelah membaca novel karya kami, "Bulan Terbelah".

Bagi yang ingin cerita inspirasinya termuat dalam blog ini , silahkan kirimkan inspirasi kamu ke hanurais[at]gmail.com
Bagi tulisan yang terpilih akan dipublikasikan disini.

Berikut beberapa tulisan Sahabat Cahaya :

Sony Wibisono - 90

90 Persen tulisan berdasarkan fakta
Suara Merdeka Cetak
Selasa, 16 September 2014

Hanum mengakui, dunia jurnalistik sangat mempengaruhi pilihannya menjadi penulis. Saat di Eropa ia menjadi kontributor media online untuk tulisan-tulisan feature. Ia pun mengakui novelnya, terutama 99 Cahaya di Langit Eropa banyak beranjak dari fakta.

Bukti sejarah apa yang membuat hanum terkagum-kagum akan toleransi di negara eropa? Baca kisah lengkap disini
» baca selengkapnya

Cinta Maulida

Menjadi agen Islam yang baik
Cinta Maulida – via email
Kamis 11 September 2014

Saat saya ikut program student-exchange, saya sudah berhijab selama 6 tahun. Walaupun keputusan berhijab datang dari diri saya sendiri, saya juga sempat merasa bimbang untuk tetap berhijab, khususnya karena negara yang akan saya singgahi tersebut masih menyimpan bekasan pasca tragedi kemanusiaan 9/11. Beberapa teman saya ada yang memutuskan menanggalkan hijabnya, namun beberapa ada yang mempertahankannya.

Lalu bagaimana dengan saya? Baca kisah lengkap saya disini dan bagaimana Bulan Terbelah memiliki hubungan dengan kisah saya. happy
» baca selengkapnya

9 Jun 2014

Selamat Pemenang Lomba Twitter dan Facebook BTdLA

Pastikan nama kamu ada dalam daftar pemenang lomba Twitter dan Facebook BTdLA.
SELAMAT YAAA !!!


Klik gambar untuk melihat gambar pemenang