GRATIS Loh.....

Bulan Terbelah di Langit Eropa, Available Now...

Sudah punya Novel Berjalan diatas Cahaya?

“Seru! Jalan-jalan ke Eropa dan dapat kisah inspiratif ‘hanya’ seharga buku ini. Beneran!”, kata K.H. Yusuf Mansur

MILIKI SELURUH KOLEKSI HANUM dan RANGGA

Buat Kamu yang pengen memiliki koleksi novel karya hanum dan rangga, pemesanan bisa loh dilakukan melalui web ini. GRATIS ongkir utk wilayah pulau Jawa. Buruannnnnn !!!


PENGUMUMAN: Untuk sementara kami tidak melayani pembelian novel via web. Silahkan menghubungi toko gramedia terdekat. Terimakasih

Mar 11, 2013

CastingFilm99Cahaya


Ayoooooo...
Angkat tangan bagi yang sudah membaca novel "99 Cahaya di Langit Eropa" !!!

Novel karya Hanum Salsabiela Rais ini , akan segera di filmkan pada tahun ini
Buat 99ers tunggu info selanjutnya ya.

Oh ya, buat kamu yang ingin mencoba keberuntungan memerankan salah satu tokoh di film "99 Cahaya di Langit Eropa" , silahkan kirimkan info diri kamu dan ikuti  castingnya.

Contact mail :  contact[at]maximapictures.com
visit  Maximapictures

Follow juga twitter official kami di @HanumRais99Ners dan @Film99Cahaya

See you there 99ners .....!!!

Mar 6, 2013

Jika Anjing menjadi Tuan




Hanum Salsabiela Rais – detikNews

Wina - Bau amis menyengat di beberapa sudut jalan di Kota Wina. Bukan amis bau pasar ikan. Juga bukan bau amis sungai yang penuh tumpukan sampah, karena sungai dan danau di Wina sangatlah bersih dan asri.

Bau tak sedap tersebut tak lain berasal dari kotoran anjing yang berserakan di jalan jalan seputar Kota Wina. Di musim salju dan hujan yang kerap turun akhir-akhir ini, tampaknya mempercepat tersebarnya polusi udara.

Seperti dirilis koran Heute, pemerintah Wina belakangan ini disibukkan dengan urusan membersihkan kotoran anjing. Sejak beberapa bulan terakhir, menurut Catatan Sipil Kota Wina, kepemilikan anjing oleh warga Wina meningkat tajam. Dus, kotoran anjing pun berbanding lurus jadi melimpah.

Saking pusingnya, tampaknya pemerintah Wina memberlakukan kebijakan denda kotoran anjing. Barang siapa yang terdapati membiarkan anjingnya buang hajat sembarangan maka si pemilik akan dikenai denda 36 Euro atau sekitar Rp 544.089.

Efektifkah? Melihat dari masih banyaknya kotoran anjing bergelimang di mana-mana, agaknya kebijakan masih belum disadari penuh. Jika sudah begitu, lalu siapa yang patut disalahkan? Tentu bukan si anjing, karena anjing tetaplah anjing alias binatang. Yang paling bertanggung jawab adalah si tuannya.


Anjing di Austria, atau juga di negara Barat lainnya, memang menjadi bagian terpenting dari sebuah keluarga. Ia memiliki sertifikat kelahiran seperti halnya manusia. Posisi anjing sudah bukan seperti penjaga atau penghibur belaka. Namun lebih dari itu, anjing telah dianggap salah satu keluarga inti seperti halnya anak kecil yang dimanjakan.

Bayangkan saja, sebuah data dari Universitas Virginia menyebutkan, kebutuhan untuk pemeliharaan nutrisi dan kesehatan di negara-negara berkembang memerlukan USD 13 miliar pertahun. Sementara, jumlah pengeluaran untuk kebutuhan anjing di Eropa dalam setahun bisa mencapai USD 17 miliar. Bayangkan bila dana yang terhambur untuk anjing itu bisa terdistribusi untuk kesejahteraan manusia di dunia yang masih hidup kekurangan.

Perlakuan terhadap anjing pun hampir sejajar dengan perlakuan seperti manusia pada umumnya. Misalnya, layaknya penumpang kereta, anjing pun dikenai tarif tiket transportasi bila menggunakan jasa tranportasi umum di Austria. Anjing juga leluasa berkeliaran di mall dan pusat perbelanjaan. Sampai-sampai anjing pun mendapat ruang khusus dalam lalu lintas dan jalanan. Banyak rambu yang dipasang untuk mengatur kaum anjing.

Ironisnya lagi, dalam hal menerima penghuni apartemen, kadang pemilik apartemen lebih memilih tenant yang memiliki anjing daripada anak kecil. Seolah anjing bukan lagi hamba manusia, justru yang berlaku adalah sebaliknya. Termasuk menyangkut kotoran si anjing. Tak jarang sang tuan rela menunggui sang 'buah hati' membuang hajat, dan memungut kotorannya dengan plastik yang telah disiapkan.

"Itu lebih baik, daripada mereka (anjing) dibiarkan (maaf, menahi) sembarangan, tanpa menguburnya," ujar Phillips, warga yang kesal karena sering menginjak kotoran anjing. "Di mana-mana seperti banjir kotoran anjing," Phillips berkias.

Jika Anjing Menjadi Tuan
(sal/nrl) detiknews

Mar 5, 2013

Pesan jejak Amien Rais



MOHON MAAF

UNTUK SEMENTARA HANUM RAIS MANAGEMENT TIDAK MELAYANI PEMBELIAN VIA ONLINE. DAPATKAN DI  GRAMEDIA TERDEKAT.



JUDUL BUKU : "MENAPAK JEJAK AMIEN RAIS"
* HARGA : Rp. 65.0000,- (pulau jawa)
                     Rp. 90.000,- (luar pulau jawa)
BONUS : TANDA TANGAN PENULIS DAN M. AMIEN RAIS
*sudah termasuk ongkos kirim

CARA PEMESANAN BUKU, klik disini
  • Kirimkan pesanan judul dan jumlah buku ke alamat Email : hanumrais[at]gmail.com atau SMS ke +62 857-9935-2562/Umi, disertai dengan nama lengkap serta alamat tujuan pengiriman.
  • Email/SMS/Pesan Facebook akan kami respon dengan cepat.
  • Jika sudah sesuai dengan jumlah pemesanan, silahkan Anda transfer ke :
    Bank Mandiri - KC Yogyakarta Gedung Magister
    A/C : 137-00-10735-328
    A.n UMI IRVIANA



  • Dimohon untuk konfirmasi pembayaran dan informasi bank yang digunakan dan jika telah melakukan transfer diharapkan konfirmasinya melalui SMS ke  +62 857 9935 2562/Ummi, atau email hanumrais[at]gmail.com.
  • Dapatkan diskon khusus untuk pembelian dalam jumlah besar.

Pesan Buku "99 Cahaya di Langit Eropa"


MOHON MAAF

UNTUK SEMENTARA HANUM RAIS MANAGEMENT TIDAK MELAYANI PEMBELIAN VIA ONLINE. DAPATKAN BUKU DI GRAMEDIA TERDEKAT ATAU BUKALAPAK.COM.



JUDUL BUKU : "99 CAHAYA DI LANGIT EROPA" (edisi cover film)
HARGA* : Rp. 85.0000,- (pulau jawa)

                    Rp 130.000,- (luar pulau jawa)
BONUS : TANDA TANGAN PENULIS
*sudah termasuk ongkos kirim

BUKU TELAH TERSEDIA KEMBALI

CARA PEMESANAN BUKU, klik disini
  • Kirimkan pesanan judul dan jumlah buku ke alamat Email : hanumrais[at]gmail.com atau SMS ke +62 857 9935 2562/ Umi,  disertai dengan nama lengkap serta alamat tujuan pengiriman.
  • Email/SMS akan kami respon dengan cepat.
  • Jika sudah sesuai dengan jumlah pemesanan, silahkan Anda transfer ke :
    Bank Mandiri - KC Yogyakarta Gedung Magister
    A/C : 137-00-10735-328
    A.n Umi Irviana


  • Dimohon untuk konfirmasi pembayaran dan informasi bank yang digunakan dan jika telah melakukan transfer diharapkan konfirmasinya melalui SMS ke +62 857 9935 2562/Umi, atau email hanumrais[at]gmail.com.
  • Dapatkan diskon khusus untuk pembelian dalam jumlah besar.

Detik-detik yang menentukan

Assalamualaikum.. Dear Mbak Hanum,

Perkenalkan saya Nina. Saya br aja kmrn sore beli buku tulisan Mbak Hanum di Gramedia Grand Indonesia dan Alhamdulillah sdh khatam siang tadi.Buku yg inspirasional.Sblmnya saya smpt maju-mundur utk beli buku ini,lbh trtarik beli buku metro-pop atau chicklit smacemnya.Tp trnyata buku ini justru memberikan lbh banyak faedahnya.Gak hanya mengisi wkt luang saya menunggu pengumuman penempatan CPNS,tp justru isi buku ini yg sgt menginspirasi rasa ttg keberanian seorang Amien Rais yg tak pernah padam. Sungguh alur cerita dan tutur bahasa yg Mbak Hanum pakai bs membuat saya seakan ikut masuk merasakan situasi yg trgambar di sana.Saya sempat terharu saat membaca chapter “Detik-detik yang menentukan” dan “Akhir sebuah drama”.Lewat buku Mba Hanum ini saya jd lebih bersyukur juga punya keluarga,ayah-ibu-adik yg penuh cinta.Krn gak semua org bs menikmati karunia yg seperti kita terima ini ya,Mbak?even bpk saya bkn politisi atau saudagar kaya hehe..

Anyway,terima kasih banyak ya Mbak Hanum,untuk berbagi tentang keberanian,kegigihan dan cinta.I heart this book.

Ternyata saya gak nyesel naruh kembali novel2 chicklit di rak dan memilih buku ini untuk dibayar di kasir.Hehe..

Oh iya Mbak,tolong sampaikan salam saya untuk Ibu Amien.I admire her.

Wassalamualaikum

PS: Thanks nina. Mudah2an suatu saat kita bisa ketemu

sumber : notes FB Hanum Rais

Kehidupan bersahaja ditengah kekacauan

Assalamu'alaikum.

Membaca nukilan buku karya Hanum Salsabila Rais, Puteri Tokoh Reformasi Indonesia, Prof. DR. Amien Rais, MA ini seperti membaca sebuah kehidupan yang bersahaja dan sederhana ditengah 'zaman kacau' Indonesia. Sebuah oase bagi anak-anak muda untuk rajin berkaca dan berhenti sejenak meneguk perigi keteladanan dari sisi lain sang tokoh akademisi-politisi terkemuka Indonesia. Tutur kata penulisnya jernih, mengalir, lugas dan bersahaja.

Secara pribadi, saya beberapa kali berkesempatan bertatap muka dan bertukar-pikiran dengan Pak Amien. Sama ada ketika masih di Jambi, menimba ilmu di Jawa Timur, pun pada sebuah dialog lesehan di KBRI Cairo. Saya bukan orang politik atau aktivis ormas mana pun. Hanya suka belajar dari banyak orang di mana pun dan kapan pun.

Nukilan dibawah ini sudah mendapat izin dari Mbak Hanum dan suaminya, Mas Rangga Almahendra yang tengah menimba ilmu di Linz, Austria. Terima kasih. Semoga kebaikan Allah melimpahi mereka berdua. Shoukran.

Wassalam



Terimakasih untuk mas Ahmad David Kholilulrrahman, untuk sharing excerpt buku saya melalui facebook dan mailing list, semoga Allah Swt membalas kebaikan mas Ahmad, Jazzakumullah khairan katsiraa.

Hanums

sumber : notes FB Hanum Rais

Surat Kangen buat pak amien

SURAT KANGEN BUAT PAK AMIEN :)

ASSALAMUALAIKUM Wr. Wb

Apa kabar pak amien? Semoga ALLAH senantiasa melindungi pak amien dan keluarga. Perkenalkan terlebih dahulu, nama saya M Nurdiana. Saat ini saya sedang duduk d bangku perkulihan semester I jurusan hubungan internasional universitas muhammadiyah malang. Saya menulis surat ini hanya sekedar ingin melepas rindu pada pak amien. Mengingat bahwa saya mengagumi pak amien dari kelas 6 SD.

Saya bahkan masih ingat pertama kali saya bertemu pak amien di sela-sela padatnya jadwal pak amien berkampanye untuk pemilu 2004. Pesisir pantai surabaya – kenjeran – sukolilo. Saya dan teman-teman yang saat itu masih duduk di bangku kelas 6 SD muhammadiyah 25 surabaya pergi mengayuh sepedah kecil kami menuju pesisir pantai yang jaraknya berpuluh-puluh kilometer dari sekolah. panas dan keringat – tapi kami tetap semangat mengayuh sepedah kecil kami menuju pesisir pantai hanya untuk memamerkan sebuah coretan di atas kertas karton putih yang bertuliskan “KAMI MENDUKUNG PAK AMIEN RAIS SEBAGAI PRESIDEN RI 2004”. 2 jam kiranya kami semua menunggu kedatangan pak amien ke sukolilo. Hingga kemudian terdengar sirine polisi yang menandakan bahwa orang penting itu telah datang – ya – pak amien datang, diantar mobil mewah berwarna hitam. Bapak turun dari mobil dan segera menempati kursi yang telah disediakan oleh panitia. Dan kami – bocah-bocah cilik SD muhammadiyah 25 – berdiri mengusap keringat lalu membentangkan karton putih itu agar pak amien bisa membacanya. Benar saja pak amien melirik kami, mungkin karna kami satu-satunya bocah cilik yang hadir dalam form muhammadiyah itu. pak amien tersenyum – mengacungkan jempol lalu mengangguk – seolah berkata ‘bagus’ pada kami. Apa pak amien tahu? betapa senangnya kami melihat kode itu dari kejauhan. Ya – kami hanya bisa berdiri melihat pak amien dari jarak 25 meter karna ketatnya pengawasan terhadap pak amien.

saya bahkan masih menyimpan puluhan postcard bergambar amien-siswono yang dibagikan setelah acara tersebut. esoknya, kami juga mendapat stiker bergambar pak amien -- dan saya langsung menempel stiker-stiker itu di tembok depan rumah. orang-orang kampung yang awam akan pak amien, dengan tak bertanggung jawab merobek nya. lalu berkata, "opo iki? amien rais? gak payu!(gak laku)". sakit hati saya mendengar itu. saya yang waktu itu masih berumur 14 tahun, hanya bisa marah -- keluar rumah dan langsung 'misuh' (mengucapkan kata kasar&kotor khas surabaya). saya memang masih bocah SD..tapi apa salahnya jika saya nge-Fans sama pak amien? saya membela pak amien, bukan karna pak amien orang muhammadiyah -- tapi karna pak amien ganteng !! yaa -- itulah yang ada dipikiran saya waktu masih duduk di kelas 6. kenapa orang-orang kampung ituu gak bisa ngerti? dan sekarang -- 6 tahun setelah pemilu 8 juli 2004, saya membeli novel biografi tulisan mbak hanum -- dan konyolnya saya jadi kangen pak amien lagi :)

singkat cerita, saya hanya ingin bertanya, kemana kah pak amien sekarang?

pak amien yang dulu berkoar-koar menuntut reformasi -- pak amien yang kemarin mengkritik pemerintahan SBY..apa yang akan pak amien lakukan lagii melihat banyak mahasiswa berusaha menurunkan pak SBY?

pertanyaan inii yang sering teman-teman saya tanyakan ketika saya membaca novel biografi tulisan mbag hanum ..

saya bingung mau menjawab apa? sementara, mereka yg bertanya -- sebagian mengaku pernah mengagumi pak amien --

jika sempat, saya berharap besar, pak amien mau membalas surat saya -- atau mungkin sekedar berkunjung ke kampus saya -- sekalian ngobatin kangen saya pak :)

sekian surat dari saya -- terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca surat kangen saya ..

salam rindu,

M Nurdiana

nb : surat ini, insyaallah akan saya kirim ke alamat rumah pak amien di yogyakarta :)

source : notes FB Hanum Rais

Surat tidak mengalami editing

Sosok pak Amien mengingatkan pada Bapak saya

Kekaguman Henry pada pak Amien Rais mengingatkan dia pada bapaknya.
Kak Hanum, perkenalkan saya Henry, 24 tahun dari Wonosari Gunungkidul Jogjakarta. Saya mengidolakan Pak Amien sejak saya masih duduk di kelas 6 SD. Melihat sosok fisik Pak Amien, saya selalu teringat dengan Bapak saya. Bapak saya Guru SMP, warga Muhammadiyah di Gunungkidul, serta mengidolakan Pak Amien pula.

Oh ya kak, saya juga pernah jadi reporter seperti kakak. Saya bekerja sebagai reporter di Radar Jogja. Saya pernah berkunjung ke kediaman kakak untuk wawancara dengan Pak Amien (bersama teman-teman wartawan yang lain). Saat itu, kami wawancara soal RUU Keistimewaan DIY. Saya bekerja sebagai reporter selama dua tahun, sebelum pada akhir April 2010 kemarin, saya harus mematuhi permintaan ayah dan ibu saya untuk menjadi Guru. Saya sekarang menjadi Guru PNS di salah satu kecamatan di Banyumas.

Saya baru saja membaca buku tulisan kak Hanum. Buku itu rampung saya baca berselang dua jam setelah saya membeli.

Sebelumnya, saya juga sudah membaca buku Pak Amien, Selamatkan Indonesia. Buku itu favorit saya. Sudah sejak dua tahun yang lalu saya membeli dan memulai membacanya, tapi sampai sekarang belum selesai memahami semua isi buku itu. hehehee..

Kak Hanum, saya menunggu lanjutan dari buku Kak Hanum. Saya yakin masih banyak kisah seputar kehidupan Pak Amien yang menarik untuk disimak.

Oh ya kak, ada rencana untuk menggelar acara bedah buku di Jogja/Purwokerto? soalnya kemarin-kemarin saya tidak ikut. Saya tunggu ya kak.

Terima kasih Kak Hanum, salam.

source : notes FB Hanum Rais

Menemukan Jawaban

Dibuku ini, R menemukan jawaban dari informasi yang hanya dia dengar dari dosennya.
Yang Terhormat Mbak Hanum Rais Di Tempat

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Apa kabar mbak Hanum? Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya bagi Mbak sekeluarga.

Nama R****. Saya sekeluarga adalah pengagum tokoh Amien Rais. Sejak saya kecil, Bapak saya sangat mendukung gerakan Reformasi yang diusung Bapak Amien. Bapak saya yang juga seorang muhammadiyah sejati tentunya tahu bahwa Pak Amien adalah seorang muslim yang bersih, juga seorang figur yang sangat cocok untuk menjadi pemimpin negeri ini. Waktu itu saya yang masih kecil, selalu beranggapan bahwa apa yang disukai Bapak saya adalah hal yang baik. Karena itu saya juga ikut-ikutan mengagumi Bapak mbak Hanum karena alas an yang simple, karena menurut Bapak saya beliau yang terbaik.

Saat saya berumur 13 tahun, saya kecewa ketika idola saya tersebut kalah dalam Pemilihan Umum. Waktu itu saya ingat Bapak saya berkata, “Orang kurang menyukai tokoh yang lurus, Mbak.” Akhirnya mau tidak mau saya memandang skeptis pemerintahan negeri kita. Saya yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang politik, berniat untuk tetap memilih Amien Rais lagi bila saya sudah cukup umur untuk mencoblos. Sayang sekali, tahun lalu Bapak Amien Rais tidak ikut mencalonkan diri menjadi presiden.

Saat lulus SMA saya sempat ingin masuk fisipol UGM hanya karena Bapak saya bilang Pak Amien adalah Guru besar disitu. Saya berpikir barangkali saya bisa beruntung menjadi mahasiswa beliau. Namun karena saya lulus dari jurusan IPA, saya akhirnya memilih untuk kuliah di Teknik, sebelum akhirnya saya diterima di kampus saya sekarang.

Saya sekarang bersekolah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, semester 2. Di semester ini, saya mendapatkan mata kuliah Kewarganegaraan. Dosen saya, adalah pecinta orde baru sejati. Saya menyebutnya begitu karena Dosen saya ini begitu mengagumi sosok Pak Harto, dan seringkali menyebut dan menjelek-jelekkan Amien Rais. Beliau menyebutkan beberapa fakta yang menurut saya sangat tidak berdasar dan saya agak terganggu oleh cerita beliau.

Namun Allah seperti mengetahui isi pikiran saya. Beberapa minggu kemudian saat saya ke Gramedia, saya menemukan buku mbak Hanum di rak buku terbaru. Langsung saja saya ambil dan saya baca ditempat. Pada halaman awal saya tanpa sadar meneteskan air mata karena sosok Bapak yang ditampilkan mengingatkan saya pada Bapak di rumah. Maklum, kuliah di luar kota membuat saya jauh dari kedua orang tua saya. Betapapun homesicknya saya disini,semua ini demi bakti saya kepada Bapak dan ibu dirumah. Saya juga anak seorang dosen seperti mbak Hanum. Bapak saya tidak pernah mengajarkan untuk berfoya-foya,kecuali untuk pendidikan.Saya paham betul rasanya tidak membeli mainan seperti teman sebaya tapi dibelikan buku. Tapi saya sekarang merasakan manfaat yang besar dari kebiasaan Bapak saya membelikan buku saat saya masih kecil itu.

Saat itu, saya ingin melanjutkan membaca tapi saya belum mendapat kiriman uang. Saya lalu bertanya pada Bapak via facebook, bahwa saya ingin membeli buku itu. Bapak bilang, selama buku itu bermanfaat, beli! Nanti Bapak ganti uangnya. Akhirnya saat ulang tahun saya yang ke-19 pada 12 mei lalu saya membelinya sebagai kado untuk diri saya sendiri.

Saya sangat suka dengan tulisan mbak Hanum yang begitu jujur dan mampu membuat saya tertawa lalu meneteskan air mata,terhanyut bersamanya. Saya menemukan jawaban atas tuduhan yang dilontarkan dosen KWN saya dikelas. Saya percaya faktanya bukan seperti yang beliau paparkan. Saya lega karena saya mendapatkan jawabannya.

( . . . )

Sekian surat dari saya. Semoga apa yang saya kisahkan dalam surat ini bermanfaat bagi Mbak dan dengan segala kerendahan hati saya mohon maaf bila ada kata-kata yang menyinggung Mbak. Terimakasih karena mbak sudah membuat buku yang membuka cakrawala saya. Semoga Mbak Hanum selalu dilimpahi rahmat dan Hidayah Allah. Amin.

Wabillahi taufiq walhidayah, wassalamualaikum warahmatullah wabrokatuh.

source : notes FB Hanum Rais

Terinspirasi dari menapak jejak amien rais

Tulisan ini kami sadurkan ulang (tanpa editing) untuk memberi inspirasi kepada sahabat HR. Semoga bermanfaat

Assalamu'alaikum mbak Hanum.

Perkenalkan nama saya **** dari Magelang, Jawa Tengah. Saat ini saya duduk di kelas XII SMA. Sebelumnya, saya ucapkan selamat atas buku yg mbak tulis. Di sini saya hanya ingin berbagi sedikit tentang tanggapan saya mengenai buku "Menapak Jejak Amien Rais". Sebagai remaja yg baru saja 17 tahun, saya sangat terinspirasi dgn buku tsb. Memang, sampai saat menulis pesan ini, baru 2 bab yang sempat saya baca, dan insyaallah mampu saya pahami dgn baik. Tetapi, justru di bab 2 inilah emosi saya diombang-ambingkan. Kadang ikut emosi, tapi tiba2 mata berair.

Dan karena buku inilah saya harus mampu menerapkan apa yg dinamakan konsistensi. Ketika pertama kali bapak saya memperlihatkan buku ini, dan sekilas membaca judulnya, dari dalam hati seperti tertantang untuk menggiatkan diri terus menulis. Sampai2 saya dg spontan bilang pada Bapak,"Pak, besok saya buatkan buku juga ya, biar kaya mbak Hanum".

Ketika membaca buku ini, entah mengapa justru sering sekali pikiran ini tergelitik. Pernah beberapa kali saya ingin menjadi bagian dari politik dan berabung dg parpol. Motivasi itu muncul karena menurut saya, partai adalah komunitas dengan permasalahan yang komplek. Apalagi bapak juga aktif dalam partai. Buku inilah yang sepertinya makin "ngiming-imingi" saya dengan hal2 yg berbau politik, bukan malah membuat saya makin antipati dengan politik.

Tapi Mbak, esensi dalam buku ini pastinya adalah bagaimana keluarga itu berdiri di atas pondasi agama dan kepercayaan. Terima kasih mbak atas buku dan segala inspirasinya. Semoga buku ini juga mampu memotivasi remaja lain dalam upaya pendewasaan diri dan pencarian jati diri.

Wassalamu'alaikum.. ?

sumber : notes FB Hanumrais

Surat Sahabat

Surat ini merupakan email dari salah satu sahabat HR, Mei, yang berkuliah di Univ.Negeri Surabaya. Tulisan di copy-paste langsung dari emailnya
Assalamualaikum..

Mbk Hanum, pertama-tama perkenalkan, nama saya Mei, umur 22th, saya seorang mahasiswi di Universitas Negeri Surabaya Jurusan Pendidikan Akuntansi semester terakhir. Saya lahir dan besar di Surabaya, tetapi bertinggal di Sidoarjo beberapa tahun terakhir ini.

Bisa dibilang saya termasuk salah seorang pembaca dari buku yg Mbk Hanum tulis yg berjudul "99 Cahaya di Langit Eropa". dan Subhanallah, saya begitu terkesima dengan gaya penulisan yg Mbk Hanum & Mas Rangga lakukan.

Awalnya saya pergi ke toko buku kemarin hanya untuk membeli Al-Quran yg akan dipergunakan oleh kakak saya sebagai mahar dlm pernikahannya bln dpn, tp ya nggak tau knp kok stlh memilih Al-Quran yg akan dibeli tiba2 mata saya tertuju pada buku yg Mbk Hanum tulis tsb yg lokasinya ada di samping rak Al-Quran. Dan rasanya ada hasrat yg berbicara bahwa saya harus membeli dan membaca buku tersebut (percuma jg kalau beli tp nggak dibaca :D). Keesokan paginya, atau tepatnya td pagi, saya tidak sabar untuk membaca novel Mbk Hanum tsb smp habis. Dan Subhanallah.. saya benar2 terkesima dg gaya penulisan yg Mbk Hanum yg membuat kita tersedot seolah-olah saya jg sedang mengalami hal yg sama dg yg Mbk Hanum tulis tersebut.

Saat saya membaca tulisan Mbk, saya baru sadar bahwa Mbk Hanum ini termasuk salah seorang Reporter TransTV favorit saya dulu dan merupakan salah seorang Putri dari tokoh yg selama ini saya kagumi pula yaitu Bpk Amien Rais. Saya sempat bertanya pula pada salah seorang teman saya di Jakarta yg kebetulan beliau jg anggota dari PAN yg baru saja pulang dr Jogja sesaat sebelum bln Ramadhan dimulai, beliau sempat bilang kepada saya jika salah seorang putri dari Pak Amien, yaitu Mbk Hanum, memang baru saja pulang dr Eropa. Dan hal2 tersebut membuat saya menjadi semakin nge-fans dg Mbk Hanum dan akhirnya membawa saya dalam kenekatan untuk mengirimi Mbk Hanum email ini. Meskipun awalnya saya sempat ragu untuk menulis email ini atau tdk, tp akhirnya saya jg mengirimi Mbk email ini pula.. :)

Setelah saya baca lg email yg mau saya kirim ke Mbk Hanum, kok saya ngrasa email ini panjang bgt yo?? hehehe...

Makasih ya Mbk, Mbk Hanum udh sudi membaca email saya yg saya rasa lama2 nggak jelas jluntrungane ini..

Wassalam, Mei

Resensi "99 Cahaya di Langit Eropa", part.1

Hanumrais Management mengucapkan terimakasih atas partisipasinya dalam membuat resensi 99 Cahaya di Langit Eropa. Berikut ini beberapa cuplikan resensi yang masuk ke meja redaksi, selamat membaca ya...

Farid Aji Prakosa

Kisah Hanum Rais Berpuasa di Austria
Farid Aji Prakosa – detikRamadan
Sabtu, 30/07/2011 11:57 WIB

Jakarta - Puasa sudah menjadi kewajiban umat Muslim di bulan Ramadan. Jika sedang berada di luar negeri, utamanya di negara yang sedikit umat Muslimnya, tentu menjadi tantangan tersendiri.

Itulah yang pernah dialami oleh Hanum Salsabila Rais, puteri kandung Amien Rais, saat ia melanjutkan belajarnya di Wina, Austria. Perempuan yang akrab dipanggil Hanum ini, menceritakan bagaimana pengalamannya saat berpuasa di negeri orang. .....
» baca selengkapnya

Resensi Robby H. Abror

Terbit di Koran Tempo, Tanggal 7 Agustus 2011
oleh :Robby H. Abror, Dosen Filsafat UIN Yogyakarta

Lewat novel sejarah yang ditulis oleh Hanum dan Rangga ini membukakan kesadaran dan eksistensi umat Islam, bahwa sebagai minoritas Muslim di Eropa, hidup bukan perkara mudah. Bagi muslimah berjilbab, mencari pekerjaan di Austria, negara dan pintu masuk di mana penulis tinggal dan menjelajah Eropa selama 3 tahun, tidak saja harus diperoleh dengan kesungguhan dan kepandaian, tetapi benar-benar membutuhkan mental yang kuat melawan emosi dan sakit hati untuk selalu siap ditolak dan dipinggirkan. Perjuangan hidup yang berat dan menyayat hati sudah terlanjur menjadi kisah biasa yang memaksa nalar kita untuk memakluminya .....
» baca selengkapnya

Resensi from Najlazea

Another traveling book written by Hanum Salsabiela Rais. Don't worry this is not ordinary traveling books that spread all over bookshops in Jakarta. This book is different. You will not only find information about places to go and what to eat with limited budget, this book gives you more.

Fasten your seat belt, let's start the journey around Europe. It's begun when the author lived in Vienna, Austria for 3 years. She was there to accompany her husband who got scholarship to continue his doctoral degree. If people always associate Europe with 'only' Eiffel Tower, Louvre Museum, luxurious palaces, and the like, not for the author. For her, Europe means a million mysteries about a very high civilization, yes it's Islam greatest civilization .....
» baca selengkapnya

Resensi Dalila Sadida

Pernah mendengar kata “jihad”? Apa yang ada di pikiran kawan bila mendengar kata itu? Perang? Kekerasan? Bagaimana kalau mengartikan jihad menjadi seperti ini: jihad adalah usaha kita (muslim) yang sungguh-sungguh untuk menjadi seseorang yang dapat menghayati sepenuhnya kalimat Laa ilaha illallah. Karena pernah saya membaca, perang di jalan Allah dalam membela agama punya istilah lain, yaitu qital (correct me if im wrong) .....
» baca selengkapnya

Resensi Nurvita Indarini

Sinopsis:
Buku ini adalah catatan perjalanan atas sebuah pencarian. Pencarian cahaya Islam di Eropa yang kini sedang tertutup awan saling curiga dan kesalahpahaman. Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun, aku merasakan hidup di suatu negara di mana Islam menjadi minoritas. Pengalaman yang makin memperkaya spiritualku untuk lebih mengenal Islam dengan cara yang berbeda.
Tinggal di Eropa selama 3 tahun adalah arena menjelajah Eropa dan segala isinya. Hingga akhirnya aku menemukan banyak hal lain yang jauh lebih menarik dari sekedar Menara Eiffel, Tembok Berlin, .....
» baca selengkapnya

Resensi Marwan

Novel dengan judul 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA, PERJALANAN MENAPAK JEJAK ISLAM DI EROPA ini ditulis oleh dua orang muslim Indonesia. Mereka adalah Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Perjalanan sepasang suami istri ini kemudian diabadikan dalam cerita nonfiksi (novel islami). Perjalananya kedua dimulai dari kota Wina, ibu kota dari Negara Austria sampai akhirnya kembali pada sebuah tempat yang disebutnya sebagai titik nol kehidupan. Atau titik (tempat) dimana Al-Quran diturunkan dan Islam dihadirkan yaitu di Makkah.....
» baca selengkapnya

Resensi Akhda Afif Rasyidi

orang kaya yang mengirimkan anaknya ke sekolah berlabel internasional, seperti menggarami lautan, tapi ia tak sadar telah melubangi kapalnya sendiri [Hanum Rais]

Namanya Hanum Salsabiela Rais. Saya baru mengenalnya lewat buku pertamanya, “Menapak Jejak Amien Rais”. Yap, betul. Hanum adalah putri Amien Rais. Lulusan Kedokteran Gigi UGM yang kini mengabdikan hidup sebagai jurnalis. Bukunya mungkin terkesan subjektif, karena menceritakan salah seorang tokoh besar yang juga merupakan ayahnya sendiri. Namun, di sinilah menariknya. Hanum menceritakan sisi lain seorang tokoh besar, dari perspektif yang kita tak akan pernah memperolehnya, karena kita bukan anaknya. .....
» baca selengkapnya

Resensi Wildani Hefni

Hubungan dunia Eropa dan Islam mulai memanas sejak rusuhnya berbagai kejadian dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Sebut saja, pengeboman Madrid dan London, kemudian serangan teroris 11 September di Amerika, kontroversi kartun nabi Muhammad, semuanya menyebabkan ketegangan hubungan antara Islam dan Eropa. Islam menjadi sesuatu yang menakutkan. Sehingga peradaban Islam di daratan Eropa menjadi sesuatu yang kian lama kian disudutkan .....
» baca selengkapnya

Resensi dari Dedeh SH

Michael Crichton bilang: If you don’t know history, then you don’t know anything. You are a leaf that doesn’t know it is part of a tree. Barangsiapa tidak mengenal sejarah, ia tidak mengenal asal-usulnya. Seperti daun yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah pohon.

Dan George Santayana mengatakan: Those who cannot remember the past are condemned to repeat it. Barangsiapa tidak belajar dari sejarah, ia dihukum untuk melakukan hal yang sama. .....
» baca selengkapnya<

Resensi Ririn

Assalamualaikum Wr. Wb.
Kali ini sudah bisa tidak. Tidak kuijinkan diriku menunda lagi postingan kali ini. Alasannya satu saja dan sangat sederhana. Aku tak ingin moment ini terlewat sia-sia tanpa merekamnnya dalam jejak tulisan. Karena akan ada waktu dimana aku akan mengenang perasaan ini. Takjub, terkesan dan lebih kepada terharu sebenarnya. Yeaahh itulah sekecamuk emosi yang kukenali setelah membaca buku ini. Buku tentang perjalanan seorang anak manusia bernama Hanum Salsabiela Rais selama 3 tahun di Benua Eropa.

I highly recommended this book for you, mate. Trust me it’s definitely inspiring .....
» baca selengkapnya

Sahabat HR, silahkan membaca resensi lainnya di Resensi "99 Cahaya di Langit Eropa",part.2

Resensi "99 cahaya di Langit Eropa" , part 2

Hanumrais Management mengucapkan terimakasih atas partisipasinya dalam membuat resensi 99 Cahaya di Langit Eropa. Berikut ini beberapa cuplikan resensi yang masuk ke meja redaksi, selamat membaca ya...

Resensi Cindrakasih~Astrie

Ditulis dengan gaya bertutur personal, buku yang ditulis oleh Hanum Salsabila Rais dan sang suami tercinta, Rangga Almahendra ini akan membawa kita ke dalam lingkungan hidup yang riil. Penuh dengan nuansa dan gemuruh perjalanan sejarah peradaban Islam Eropa, baik pada masa silam maupun pada saat ini. Cara penyampaiannya pun sangat jelas, ringan, dan lancar mengalir. Lewat kisah menarik ini juga, penulis akan membuka mata kita akan pernak-pernik kehidupan Islam di Eropa dan merefleksikannya untuk memperkuat keimanan .....
» baca selengkapnya

Resensi Fandagri

Berbeda dari buku-buku traveling sebelumnya, akhir dari perjalanan penulis selama 3 tahun di Eropa ini justru mengantarkannya pada titik awal pencarian makna dan tujuan hidup. Makin mendekatkan diri pada sumber kebenaran abadi yang Maha Sempurna, Allah SWT.....
»baca selengkapnya

Resensi Riris

Ketika membaca judul buku tersebut di spanduk sebuah toko buku di Solo, saya langsung penasaran. Apakah ini sebuah novel atau cerita tentang tempat-tempat bersejarah Islam di Eropa. Saya pun tak melewatkan acara bedah buku yang diadakan di toko buku tersebut.
Di awal sesi acara bedah buku, saya merasa agak aneh. Pembawa acara sekaligus moderator tidak membuka acara dengan salam. Acara pun dilanjutkan dengan langsung sesi tanya jawab dengan penulis yaitu mbak Hanum Salsabilla Rais.....
baca selengkapnya

Resensi Hadratul Asliyah

Buku ini belum saya baca. Baru saja saya buka. Saya baca pengantarnya, dan bagian akhirnya *ah ya, saya selalu penasaran dgn halaman persembahan ataupun ucapan terimakasih pada setiap buku, entah. Hanya merasa “so personal”. Seakan bisa saya rasakan bagaimana sang penulis bersemangat, terinspirasi dan tulus berterimakasih pada mereka yg tersebut pd halaman tsb .....
» baca selengkapnya

Resensi Joula Aulia

Actually today I was annoyed because I wasn't allowed to take exams today because my name wasn't listed as a participant, luckily it was just a mistake. And finally I could take the exam today.
But I remembered something today, on 31 December 2011 when I was buying the book "99 light the skies of Europe", an officer in the Gramedia bookstore told me that the author of my favorite books, Hanum Rais, would come there on the 6th of January 2012. So I just quickly go there because it starts at 3 pm.
» baca selengkapnya

Resensi Nafiatunnisa

karena buku yang baru selesai saya baca ini bukan milik saya dan akan segera dilempar ke orang lain,,hehehe maka saya akan segera mereviewnya agar tidak lupa. langsung saja,,, Kebetulan di suasana baru saya mendapat kesempatan untuk membaca buku karangan dari Hanum Salsabiela Rais ini bergaya tentang islam di daerah eropa baik mengenai sejarahnya mupun mengenai kehidupan sekarang ini. Dari nama pengarang sudah tidak asing lagi, dia adalah putri dari Pak Amin Rais. Hanum adalah jurnalis di trans TV yang sedang mengembara di Eropa mendampingi suaminya, Rangga Almahendra yang sedang menempuh studi doktoralnya di Wina, Austria. keterampilan yang dimilki hanum ini sebgai jurnalis membuat buku yang digarapnya menjadi sangat mudah dimengerti tanpa mengesampingkan keindahan di seiap bahasa. Pembaca memang seakan-akan diajak berpetualang dan melihat langsung hal-hal yang dijelajahinya selama lebih dari 3 tahun di sana.....
» baca selengkapnya

Resensi Meddy Danial

Wow, lagi! Seorang novelis baru bernama Hanum Rais telah lahir dan ikut memperkaya khasanah dunia kepenulisan di Indonesia. Penulis kelahiran Yogyakarta dan lulusan fakultas kedokteran gigi UGM yang juga anak kandung Amien Rais, bersama suaminya, Rangga Almahendra, berhasil membuat novel yang merupakan hasil dari perjalanannya di Eropa selama tiga tahun. Novel ini sekaligus bisa dicirikan sebagai novel perjalanan atau yang kerap dikenal sebagai backpacking novel.....
» baca selengkapnya

Resensi Heri

Haa, akhirnya saya nulis resensi juga :). Dulu-dulu sudah pernah, tapi gak jadi-jadi diposkan (jamannya blog yang lama), sampai-sampai filenya gak tau di mana sekarang. Kebiasaan, deh, suka nunda-nunda pekerjaan happy.
Tempo hari saya baca bukunya Hanum Rais (putri dari Amin Rais) dan suaminya, Rangga Almahendra, yang judulnya "99 Cahaya di Langit Eropa". Sebelumnya sempat baca resensi singkatnya (kalau gak salah di koran atau majalah, gitu), dan seingat saya menarik, apalagi ada kata-kata "Eropa"-nya, ngiler dua ember, dah, saya :D. Makanya begitu lihat di toko buku, langsung deh saya samber tongue ......
» baca selengkapnya

Resensi Edisty Friskanesya

Hmm..sebenarnya saya merasa tidak puas dengan review di post sebelum ini. Ada yang tanya kenapa? (yah, ngga ada juga gapapa sih, saya tetep cerita) Karena…well, u see..terakhir kali saya bikin postingan adalah bulan Desember. Rentang waktu yang tidak sebentar, terlebih selang waktu tersebut tidak saya gunakan dengan aktivitas menulis lainnya. Tetapi tentu ada alasan yang lebih utama: karena buku ini menguak banyak hal, lebih besar daripada jumlah halaman buku ini sendiri. Sungguh banyak yang ingin saya bagi mengenai buku ini. Di antara sekian banyak hal, inilah yang bisa saya tulis:

1. Mengapa 99?
Pertama saya pikir, mungkin angka 99 ini merujuk pada jumlah babnya (oke, toyor saya). Tapi ternyata, menurut Mbak Hanum, 99 ini mengacu pada Asmaul Husna, 99 nama dan sifat Allah. Kurang lebih, penulisnya ingin menunjukkan kesan bahwa di langit Eropa pun, yang muslim menjadi minoritas di sana, cahaya islam dan rahmat Allah tetap terang-benderang melingkupinya. Masha Allah.....
» baca selengkapnya

Resensi Husni I. Pohan

Buku ini memuat perjalanan Hanum menelusuri jejak peradaban Islam di Eropa, tak jelas benar bagaimana Hanum membagi penugasan dalam membuat buku ini dengan Rangga (suami-nya), kesan saya sebagai pembaca, pengalaman Hanum jauh lebih dominan, dan mengamati pendekatan ala catatan harian yang digunakan, serta cerita yang khas sudut pandang wanita dengan sahabat2nya seperti Fatma (Wina dan Istanbul) dan Marion Latimer sang muallaf (Perancis) lebih kuat lagi menimbulkan kesan bahwa Hanum lah yang lebih banyak berada di balik lahirnya buku ini.....
» baca selengkapnya
Sahabat HR, jangan lupa juga banyak resensi lainnya di Resensi 99 Cahaya di Langit Eropa, part.1

Mar 4, 2013

komentar "99 Cahaya di Langit Eropa"

Berikut ini adalah komentar dari beberapa tokoh* mengenai buku "99 Cahaya di Langit Eropa"
“Berdasarkan pengamatan selama tiga tahun hidup di Eropa Hanum menyimpulkan apa yang membuat kondisi umat saat ini semakin jauh dari akar yang membuat peradaban Islam terang-benderang seribu tahun lalu. Novel perjalanan ini menunjukkan bahwa kebudayaan dan teknologi selalu berjalan berdampingan, saling mengisi menentukan masa depan suatu peradaban.”
Bacharuddin Jusuf Habibie
Mantan Presiden Republik Indonesia

“Buku ini berhasil memaparkan secara menarik betapa pertautan Islam di Eropa sudah berlangsung sangat lama dan menyentuh berbagai bidang peradaban. Cara menyampaikannya sangat jelas, ringan runtut dan lancar mengalir. Selamat”
M. Amien  Rais
Ayahanda Penulis



“Karya ini penuh dengan nuansa dan gemuruh perjalanan sejarah peradaban Islam Eropa baik di masa silam yang jauh maupun di masa sekarang, ketika Islam dan Muslim berhadapan dengan realitas kian sulit di Eropa”
Azyumardi Azra
Guru Besar Sejarah, Direktur Sekolah Pasca Sarjana UIN Jakarta



"Lewat kisah-kisah sederhana dan menarik, Hanum membukakan mata tentang pernak-pernik kehidupan Islam di Eropa dan mengajak untuk flash back melihat masa lalu. Hanum mampu merangkai kepingan mozaik tentang kebesaran Islam di Eropa beberapa abad lalu. Lebih jauh lagi, melihat nilai-nilai Islam dalam kehidupan Eropa. Islam dan Eropa sering ditempatkan dalam stigma “berhadapan”, sudah saatnya ditempatkan dalam kerangka stigma “saling menguatkan”
Anies Baswedan
Rektor Universitas Paramadina dan Ketua Indonesia Mengajar

“Buku perjalanan spiritual untuk menemukan kehakikian jati diri. Suatu penjelajahan meniti samudra kehidupan menyelami hakekat persahabatan dan mensyukuri keagungan sebuah keyakinan”
I Gusti Wesaka Puja
Duta Besar Indonesia untuk Austria dan Slovenia



“Pengalaman Hanum sebagai jurnalis membuat novel perjalanan sekaligus sejarah ini mengalir dengan lincah dan indah. Kehidupannya di luar negeri dan interaksinya dengan realita sekulerisme, membuatnya mampur bertutur dan berpikir 'out of the box' tanpa mengurangi esensi Islam sebagai rahmatan lil alamin”
Najwa Shihab
Jurnalis dan Host Program Mata Najwa, Metro TV



H = Halaman demi halaman tulisan ini memberikan inspirasi buat yang membacanya
A = Analisis yang ditulis secara objektif
N = Niat tulus untuk mengungkapkan fakta sejarah
U = Ulasan dan tulisan di ceritakan dengan lugas dan mudah di fahami
M = Membuat saya lebih jatuh cinta dengan Islam.
Eko Patrio
Artis, Anggota Komisi X DPR RI


*gambar-gambar para tokoh diambil dari beberapa website yang ada didunia maya (bukan koleksi pribadi).

Interview "99 Cahaya di Langit Eropa"


Q : Buku tentang apakah  99 Cahaya di Langit Eropa?
A : Dari judul, ada kata Eropa, mungkin orang sudah bisa menebak buku ini tentu ada unsur jalan-jalannya. Benar, tidak sepenuhnya salah. Dan jika anda mendengar angka 99, pasti sebagian besar akan mengasumsikannya dengan asma’ul husna, kesempurnaan. Benar, juga. Jadi buku ini adalah tentang sebuah perjalanan pencarian saya dalam menyibak cahaya  kesempurnaan yang di pancarkan peradaban Islam di benua ini. Buku ini bergenre novel perjalanan spiritual sekaligus novel sejarah yang mencoba menguak Eropa yang menyimpan sejuta misteri tentang Islam. Saya menuliskannya dalam bahasa ringan dan sederhana berdasarkan interaksi saya dengan banyak orang Eropa dari berbagai lini yang pernah saya temui selama 3 tahun tinggal di Eropa. Untuk pertama kalinya saya merasakan hidup di suatu negara dimana agama Islam menjadi minoritas, pengalaman yang tentunya makin memperkaya spiritual saya untuk lebih mencintai islam dengan cara yang berbeda.

Q : Apa yang kemudian membuat buku ini berbeda dengan buku traveling yang lain?
A : Sangat berbeda. Karena jika Anda mencari buku traveling yang mengumbar bagaimana tips dan trik berburu tiket perjalanan murah, akomodasi nebeng atau gratis, konsumsi super ngirit, sehingga bisa meraih keuntungan maksi dengan biaya paling minim, maka buku ini bukan jawabannya. Bagi saya, travel cost memang penting, tetapi jangan sampai mengurangi makna perjalanan itu sendiri.  Traveling tidak sekadar untuk bisa mengatakan ‚“Yes, I’ve been there. Done! Next destination is...”. Lalu fotonya dipajang di twitter atau facebook.
Bagi saya yang lebih penting adalah, bagaimana makna sebuah perjalanan harus bisa membawa pelakunya naik ‘derajat‘ yang lebih tinggi, baik horizon ilmu maupun perspektif kemanusiaannya, meninggikan keimanan dan ketaqwaanya pada Allah SWT. Buku ini memaparkan dan merefleksikan ini semua.
Jika Anda berminat untuk mencari lebih jauh bagaimana saya mendapatkan tiket murah, akomodasi dengan menginap di rumah kawan-kawan atau kenalan, dan tips untuk mengisi perut yang paling efektif dalam perjalanan saya ini, langsung ke email saya saja, kita berkorespondensi secara pribadi saja yaaa...

Q : Apa yang melatarbelakangi anda menulis buku ini?
A : Banyak hal. Tentang keprihatinan saya tentang kondisi ummah sekarang ini. Itu yang pertama dan paling memotivasi saya. Fatma, teman saya pernah getol sekali ingin belajar bahasa Inggris bersama saya. Ketika saya tanya apa yang membuatnya begitu termotivasi. Ia menjawab, karena suatu kali ia pernah begitu tersinggung terhadap dirinya sendiri. Suatu kali seorang turis asing berbahasa Inggris bertanya padanya, mungkin bertanya peta atau arah menuju suatu tempat. Namun Fatma menggeleng tanda tak paham. Turis tadi kecewa, mungkin ia sudah begitu ‘desperate‘ bahwa ada seseorang yang bisa menjawabnya. Lalu Fatma melihat turis itu bertanya kepada seorang berandalan jalanan berdandanan punk. Fatma tersinggung oleh dirinya sendiri, ketika perempuan berbaju metal dengan penuh tempelan paku dan sekrup di sekujur tubuhnya itu menjawab sang turis dengan bahasa Inggris yang sangat lancar. Wajah turis itu langsung sumringah.  Entah, Fatma merasa begitu minder ketika melihat dirinya berjilbab namun tak bisa menjawab apapun.
Itu hanya persoalan kecil. Persoalan lebih besar tentu adalah dalam sekup negara. Ditengah retorikan teriakan jihad untuk berperang dengan negara barat, sejatinya tak ada satupun negara muslim di dunia ini yang mempunyai kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri dengan inovasi dan teknologi modern. Rasa rasanya sudah tidak adalagi scholar muslim era modern, yang namanya menonjol di panggung dunia, padahal jaman dahulu banyak sekali. Yang lebih menyedihkan, ketika kita mengetik “muslim scholar modern day” di Google, kita tidak akan menemui satupun nama orang Indonesia yang tercatat di sana, padahal Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.
Ketika jilbab ‘diharamkan‘ di Prancis, minaret masjid dijatuhi hukuman ‘mati‘ oleh publik Swiss dalam referendum, kartun Nabi Muhammad dijadikan lelucon di Denmark, Video Fitna atau Submission di Belanda, game internet Baba Moschee yang menkampanyekan penghilangan imigran muslim di Austria diserukan, kita hanya bisa berteriak-teriak dan bakar ini bakar itu. Hanya itu. Tidak lebih. Lalu menghilang diterpa berita lain. Lalu beberapa waktu mendatang datang kejailan‘ yang lain. Begitu begitu begitu terus.
Perjalanan saya mengetengahkan sebuah realitas, ketika sebuah bangsa semakin meninggalkan akar keilmuannya, kecendekiaannya, intelektualitasnya lalu hanya berkutat dengan dirinya sendiri, jauh dari  hal-hal yang konkrit dan produktif, saling menyerang karena yang beda-beda tipis, menyalahkan sana sini, maka bangsa itu hanya tinggal menunggu waktu untuk dicaplok oleh bangsa lain dan menjadi barang tertawaannya.

Q : Tempat tempat mana saja yang dikunjungi dalam buku ini?
A : Buku ini menjelajah 5 kota di Eropa yang bagi saya erat kaitannya dengan perjalanan imperium keyakinan terbesar yang pernah ada, Islam. Wina ke Paris ke Cordoba-Granada dan terakhir ke Istanbul. Memang dari kelima kota ini, bukanlah kota baru‘ yang sering diungkap atau dibahas di buku-buku traveling. Tapi buku ini lebih detil menceritakan isi dari berbagai museum dan istana di Eropa, bahkan rumah ibadah seperti gereja dan masjid yang lekat dengan ruh peradaban Islam. Membaca buku ini tak hanya menggairahkan kita untuk menyaksikan keindahan Eiffel, kemegahan Colosseum, sisa-sisa Tembok Berlin, atau nuansa air yang belleza di gondola-gondola Venezia. Bukan juga hanya semata-mata melihat seperti apakah stadion San Siro, Santiago Bernebau.  Membaca buku ini kita dibawa ke sebuah lazuardi peradaban Islam yang membangkitkan rasa percaya diri dan kebanggaan sebagai muslim di jaman modern ini.


Q : Apa yang dapat disimpulkan dari perjalanan anda?

A : ‘Dan perjalanan saya akhirnya kembali ke ‘titik awal‘ dimana perjalanan itu dimulai. Di akhir cerita, saya menuliskan sebuah kontemplasi dan refleksi saya tentang kondisi umat,  apa tugas kita, mengapa kita hidup dalam dimensi keberadaan dan lebih lengkapnya tentu baca langsung buku saya ya...

* Gambar diambil dari internet

Interview Menapak Jejak Amien Rais

Q : Buku tentang apakah  Menapak Jejak Amien Rais ?
A : Buku ini adalah tulisan tentang kebersamaan saya dengan ayah saya, Amien Rais, kemudian diberi judul oleh penerbit dengan "Menapak Jejak Amien Rais".
Saya merasa mendapat banyak pelajaran nilai dan keteladanan dari seorang Amien Rais. Dalam buku ini, Saya mencoba menuliskan sosok Amien Rais yang jauh dari hingar bingar ekspose media dan politik. Saya mencoba merangkum  penggalan-penggalan kisah dan dialog saya dengan bapak, dengan gaya bercerita yang lugas dan sederhana, mudah mudahan pembaca tak perlu kesulitan mensarikan nilai hidup apa yang diajarkan Amien Rais.

Q : Apa yang kemudian membuat buku biografi ini berbeda dengan yang lain?
A : Biografi tokoh biasanya berkutat pada alur cerita perjalanan hidup dari lahir, sekolah, berkarir, hingga pencapaian pencapaian besar yang berhasil ia peroleh. Namun ada yang sering dilupakan dalam sebagian besar buku biografi bahwa jalan hidup seseorang tak akan pernah sama. Tidak mungkin kita bisa meniru persis jalan hidup orang lain. Buku Menapak Jejak Amien Rais ini adalah novel biografi yang ditulis oleh saya dengan gaya yang mengalir dan apa adanya. Bercerita tentang kisah kisah di balik panggung politik Amien Rais, jauh dari pengkultusan individu. Tak melulu hanya bercerita keberhasilan ayah saya, namun juga liku-liku kehidupannya, termasuk juga episode kegagalan kegalan yang pernah ia alami. Saya justru belajar banyak dari cara bapak mengatasi kegagalan kegagalan dalam hidupnya.

Q : Apa yang melatarbelakangi anda menulis buku ini?
A : Saya menganggap apa yang sudah saya peroleh dari keteladanan bapak saya adalah sesuatu yang berharga dan tak bisa saya simpan sendiri. Untuk itulah saya ingin berbagi kepada para pembaca. Kalaupun bapak bukanlah Amien Rais, bukan tokoh umat, bukan penggerak reformasi, bukan siapa-siapa, saya tetap akan menulisnya sebagai sosok  yang telah banyak memberi ilmu kehidupan kepada saya.
Dengan mengambil setting perjalanan perjuangan hidup bapak dari waktu ke waktu, saya banyak mendapat pelajaran berharga tentang kepemimpinan, nilai nilai keluarga dan mutiara hidup dari seorang sosok Amien Rais.

Q : Kepemimpinan? Bagaimana karakter kepemimpinan yang bisa di pelajari dari seorang Amien Rais ?
A : Bapak sering mendapat atribut sebagai figur pemimpin yang jujur, cerdas dan berani. Namun menurut saya kadar kejujuran dan intelektualitas orang mempunyai takaran dalam konteks yang berbeda-beda sehingga tidak mudah begitu saja kita tiru. Ada satu lagi karakter kepemimpinan dari bapak yang jarang ditonjolkan orang, tapi paling sering saya saksikan. Yaitu sifatnya yang selalu forward-looking, menatap ke depan. Setiap ada kegagalan, ia bisa cepat bangkit dan menata diri untuk kembali berkarya. Sifat ini juga yang mengajari saya untuk menjadi pemimpin bagi diri sendiri yang pantang menyerah dalam menemui tantangan tantangan hidup

Q : Anda juga menyebutkan nilai nilai keluarga, seberapa pentingkah arti keluarga bagi seorang Amien Rais?
A : Sangat penting sekali. Keluarga adalah pilar utama sebuah negara. Saya percaya bahwa negara akan kuat jika dipimpin oleh pribadi yang berhasil dalam keluarganya. Satu hal yang menjadi catatan dari saya betapa bapak dengan tenang dan tanpa beban berjuang di ranah publik melalui berbagai wadah, organisasi politik maupun keagamaan di Muhammadiyah. Karena bapak telah menyelesaikan urusannya terlebih dahulu dengan keluarganya sebelum ia melangkah jauh keluar rumah.

Q : Bisakah anda memberi contoh, nilai nilai keluarga yang diajarkan Amien Rais
A : Bisa. Misal bapak selalu mengajak kami untuk sholat berjama’ah. Bapak percaya, dengan selalu sholat berjamaah , kehidupan suatu rumah tangga pasti akan harmonis. Dan menurut saya ini kebiasaan yang baik. Pada bagian 4 buku ini, saya juga mencuplik bagaimana sentralnya peran ibu di dalam kehidupan seorang Amien Rais. Keputusan penting dalam hidupnya ia selalu konsultasikan dengan ibunda-nya Sudalmiyah Rais. Termasuk saat ibundanya menasehati Amien Rais agar menolak baik-baik tawaran Pak Habibie saat dirinya dicalonkan sebagai calon Presiden pada tahun 1999. Amien Rais selalu yakin, intuisi seorang ibu adalah kekuatan penting dalam hidup. Demikian pula ia mengajarkan pada saya agar selalu berbirrul walidain, berbakti kepada orang tua sepanjang masa.
(Dikutip dari Bab 3: Menembus Batas, hal: 133)

Q : Siapa yang harus membaca buku ini?
A : Ya, sebelum buku ini diterbitkan, saya mencoba meminta pendapat dari orang dengan berbagai latar belakang berbeda. Dari mulai ibu rumah tangga, wartawan, politisi, hingga kaum profesional yang jauh dunia politik. Rata rata tanggapannya positif. Mereka mengatakan, buku ini ringan dibaca dan cocok untuk siapapun yang masih mencari-cari bagaimana memaknai arti kehidupan, bagaimana seni memimpin diri sendiri dan membina keluarga.

*Gambar diambil dari internet

Pemenang lomba 99 Cahaya

PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA IMPIAN KE EROPA BERSAMA 99 CAHAYA DILANGIT EROPA

Berikut adalah pemenang lomba foto 99 Cahaya di Langit Eropa untuk satu orang dengan hadiah 1 tiket PP Jakarta-Istanbul-Jakarta


SELAMAT KEPADA PEMENANG!!!

Nurul Asri
Alamat : Jl. Talasalapang 3 no. 12 Makassar
Sulawesi Selatan
Berikut ini foto dan tautan untuk 2 link social media, cara yang dipilih oleh Nurul Asri.

- Melalui Facebook sebanyak 570 jempol facebookers
Link Facebook Nurul bisa klik disini
- Melalui Blog pribadi Nurul sebanyak 30 komentar
Link Blog Pribadi Nurul bisa klik disini

Penilaian terhadap foto kreatif tidak hanya didasarkan pada foto saja,namun juga pada penulisan blog/caption, jumlah komentator blog/Facebook/twitter,dan jumlah penyuka(like) dari facebook atau jumlah retweet dari tweet foto di twitter.

Keputusan pemenang ini bersifat tetap, tidak dapat diganggu gugat.

Selamat sekali lagi kepada pemenang.
Dan bagi para pembaca setia 99 Cahaya di Langit Eropa lainnya jangan berkecil hati. InsyaAllah di bulan Ramadhan ini akan ada lagi promo 99 Cahaya di Langit Eropa bekerjasama dengan Alisan Tour and Travel untuk memenangkan 2 tiket beribadah umrah.

Sampai berjumpa di promo 99 Cahaya di Langit Eropa selanjutnya.

Selamat menunaikan ibadah puasa semuanya ya teman teman…

Wassalamu’alaikum wr wb.

Hanum Rais Management

Mar 3, 2013

komentar buku menapak jejak amien rais

Berikut ini kami cuplikan beberapa komentar mengenai buku menapak jejak amien rais

"Transfer nilai-nilai kehidupan, spiritualitas dan kepemimpinan dari seorang Amien Rais kepada puterinya, Hanum Salsabiela Rais, dilukiskan pada buku ini secara lugas, dan amat menarik. Dengan membaca buku ini, kita akan lebih mengenal sisi lain dari ketokohan Amien Rais yang dapat dipetik oleh generasi muda Indonesia lainnya"

Prof Dr. -Ing. B J Habibie,
Mantan Presiden Republik Indonesia

"Buku ini highly recommended untuk memahami bagaimana komunikasi politik berawal dari komunikasi keluarga batih / nuclear family"

Effendy Gazali. PhD, MPS, ID,
Prog. Master Komunikasi Politik UI/Alumni Cornell Univ. New York

"Hanum menolak ditipu oleh kebudayaan di eranya untuk'melotot' kagum pada tokoh klenik,khurafat public figure, mitos pemimpin pemimpin takhayul, atau bid'ah bid'ah idolatry -- sebagaimana yang terjadi pada anak anak muda sebayanya.TIDAK. Hanum punya konsep tentang uswatun hasanah, dan memang bapaknya sendiri yang diwajibkan Allah untuk mempelopori kesungguhan konsep itu"

Emha Ainun Nadjib
Budayawan

Mar 2, 2013

Pesan Berjalan diatas Cahaya



MOHON MAAF

UNTUK SEMENTARA HANUM RAIS MANAGEMENT TIDAK MELAYANI PEMBELIAN VIA ONLINE. DAPATKAN BUKU DI GRAMEDIA TERDEKAT ATAU BUKALAPAK.COM.




JUDUL BUKU : "Berjalan diatas Cahaya"
*HARGA : Rp. 80.0000,- (luar p.jawa)

                     Rp.60.000,- (pulau jawa)
BONUS : TANDA TANGAN PENULIS DAN M. AMIEN RAIS 
* sudah termasuk ongkos kirim

CARA PEMESANAN BUKU, klik disni
  • Kirimkan pesanan judul dan jumlah buku ke alamat Email : hanumrais[at]gmail.com atau pemesanan melalui Facebook : Hanum Rais atau SMS ke +62 857 9935 2562 / Ummi,  disertai dengan nama lengkap serta alamat tujuan pengiriman.
  • Email/SMS/Pesan Facebook akan kami respon dengan cepat.
  • Jika sudah sesuai dengan jumlah pemesanan, silahkan Anda transfer ke :
    Bank Mandiri - KC Yogyakarta Gedung Magister
    A/C : 137-00-10735-328
    A.n Umi irviana


  • Dimohon untuk konfirmasi pembayaran dan informasi bank yang digunakan dan jika telah melakukan transfer diharapkan konfirmasinya melalui SMS ke  +62 857 9935 2562/Ummi, atau email hanumrais[at]gmail.com.
  • Dapatkan diskon khusus untuk pembelian dalam jumlah besar.