PENGUMUMAN: Untuk sementara kami tidak melayani pembelian novel via web. Silahkan menghubungi toko gramedia terdekat. Terimakasih

Mar 4, 2013

Interview "99 Cahaya di Langit Eropa"


Q : Buku tentang apakah  99 Cahaya di Langit Eropa?

A : Dari judul, ada kata Eropa, mungkin orang sudah bisa menebak buku ini tentu ada unsur jalan-jalannya. Benar, tidak sepenuhnya salah. Dan jika anda mendengar angka 99, pasti sebagian besar akan mengasumsikannya dengan asma’ul husna, kesempurnaan. Benar, juga. Jadi buku ini adalah tentang sebuah perjalanan pencarian saya dalam menyibak cahaya  kesempurnaan yang di pancarkan peradaban Islam di benua ini. Buku ini bergenre novel perjalanan spiritual sekaligus novel sejarah yang mencoba menguak Eropa yang menyimpan sejuta misteri tentang Islam. Saya menuliskannya dalam bahasa ringan dan sederhana berdasarkan interaksi saya dengan banyak orang Eropa dari berbagai lini yang pernah saya temui selama 3 tahun tinggal di Eropa. Untuk pertama kalinya saya merasakan hidup di suatu negara dimana agama Islam menjadi minoritas, pengalaman yang tentunya makin memperkaya spiritual saya untuk lebih mencintai islam dengan cara yang berbeda.

Q : Apa yang kemudian membuat buku ini berbeda dengan buku traveling yang lain?
A : Sangat berbeda. Karena jika Anda mencari buku traveling yang mengumbar bagaimana tips dan trik berburu tiket perjalanan murah, akomodasi nebeng atau gratis, konsumsi super ngirit, sehingga bisa meraih keuntungan maksi dengan biaya paling minim, maka buku ini bukan jawabannya. Bagi saya, travel cost memang penting, tetapi jangan sampai mengurangi makna perjalanan itu sendiri.  Traveling tidak sekadar untuk bisa mengatakan ‚“Yes, I’ve been there. Done! Next destination is...”. Lalu fotonya dipajang di twitter atau facebook.
Bagi saya yang lebih penting adalah, bagaimana makna sebuah perjalanan harus bisa membawa pelakunya naik ‘derajat‘ yang lebih tinggi, baik horizon ilmu maupun perspektif kemanusiaannya, meninggikan keimanan dan ketaqwaanya pada Allah SWT. Buku ini memaparkan dan merefleksikan ini semua.
Jika Anda berminat untuk mencari lebih jauh bagaimana saya mendapatkan tiket murah, akomodasi dengan menginap di rumah kawan-kawan atau kenalan, dan tips untuk mengisi perut yang paling efektif dalam perjalanan saya ini, langsung ke email saya saja, kita berkorespondensi secara pribadi saja yaaa...

Q : Apa yang melatarbelakangi anda menulis buku ini?
A : Banyak hal. Tentang keprihatinan saya tentang kondisi ummah sekarang ini. Itu yang pertama dan paling memotivasi saya. Fatma, teman saya pernah getol sekali ingin belajar bahasa Inggris bersama saya. Ketika saya tanya apa yang membuatnya begitu termotivasi. Ia menjawab, karena suatu kali ia pernah begitu tersinggung terhadap dirinya sendiri. Suatu kali seorang turis asing berbahasa Inggris bertanya padanya, mungkin bertanya peta atau arah menuju suatu tempat. Namun Fatma menggeleng tanda tak paham. Turis tadi kecewa, mungkin ia sudah begitu ‘desperate‘ bahwa ada seseorang yang bisa menjawabnya. Lalu Fatma melihat turis itu bertanya kepada seorang berandalan jalanan berdandanan punk. Fatma tersinggung oleh dirinya sendiri, ketika perempuan berbaju metal dengan penuh tempelan paku dan sekrup di sekujur tubuhnya itu menjawab sang turis dengan bahasa Inggris yang sangat lancar. Wajah turis itu langsung sumringah.  Entah, Fatma merasa begitu minder ketika melihat dirinya berjilbab namun tak bisa menjawab apapun.
Itu hanya persoalan kecil. Persoalan lebih besar tentu adalah dalam sekup negara. Ditengah retorikan teriakan jihad untuk berperang dengan negara barat, sejatinya tak ada satupun negara muslim di dunia ini yang mempunyai kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri dengan inovasi dan teknologi modern. Rasa rasanya sudah tidak adalagi scholar muslim era modern, yang namanya menonjol di panggung dunia, padahal jaman dahulu banyak sekali. Yang lebih menyedihkan, ketika kita mengetik “muslim scholar modern day” di Google, kita tidak akan menemui satupun nama orang Indonesia yang tercatat di sana, padahal Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.
Ketika jilbab ‘diharamkan‘ di Prancis, minaret masjid dijatuhi hukuman ‘mati‘ oleh publik Swiss dalam referendum, kartun Nabi Muhammad dijadikan lelucon di Denmark, Video Fitna atau Submission di Belanda, game internet Baba Moschee yang menkampanyekan penghilangan imigran muslim di Austria diserukan, kita hanya bisa berteriak-teriak dan bakar ini bakar itu. Hanya itu. Tidak lebih. Lalu menghilang diterpa berita lain. Lalu beberapa waktu mendatang datang kejailan‘ yang lain. Begitu begitu begitu terus.
Perjalanan saya mengetengahkan sebuah realitas, ketika sebuah bangsa semakin meninggalkan akar keilmuannya, kecendekiaannya, intelektualitasnya lalu hanya berkutat dengan dirinya sendiri, jauh dari  hal-hal yang konkrit dan produktif, saling menyerang karena yang beda-beda tipis, menyalahkan sana sini, maka bangsa itu hanya tinggal menunggu waktu untuk dicaplok oleh bangsa lain dan menjadi barang tertawaannya.

Q : Tempat tempat mana saja yang dikunjungi dalam buku ini?
A : Buku ini menjelajah 5 kota di Eropa yang bagi saya erat kaitannya dengan perjalanan imperium keyakinan terbesar yang pernah ada, Islam. Wina ke Paris ke Cordoba-Granada dan terakhir ke Istanbul. Memang dari kelima kota ini, bukanlah kota baru‘ yang sering diungkap atau dibahas di buku-buku traveling. Tapi buku ini lebih detil menceritakan isi dari berbagai museum dan istana di Eropa, bahkan rumah ibadah seperti gereja dan masjid yang lekat dengan ruh peradaban Islam. Membaca buku ini tak hanya menggairahkan kita untuk menyaksikan keindahan Eiffel, kemegahan Colosseum, sisa-sisa Tembok Berlin, atau nuansa air yang belleza di gondola-gondola Venezia. Bukan juga hanya semata-mata melihat seperti apakah stadion San Siro, Santiago Bernebau.  Membaca buku ini kita dibawa ke sebuah lazuardi peradaban Islam yang membangkitkan rasa percaya diri dan kebanggaan sebagai muslim di jaman modern ini.


Q : Apa yang dapat disimpulkan dari perjalanan anda?

A : ‘Dan perjalanan saya akhirnya kembali ke ‘titik awal‘ dimana perjalanan itu dimulai. Di akhir cerita, saya menuliskan sebuah kontemplasi dan refleksi saya tentang kondisi umat,  apa tugas kita, mengapa kita hidup dalam dimensi keberadaan dan lebih lengkapnya tentu baca langsung buku saya ya...

* Gambar diambil dari internet

0 comments :

Post a Comment

Hi 99ers,
Silahkan ajukan pertanyaan , saran ataupun kritik tentang karya dan kegiatan hanum rais. Kami akan menjawabnya. No question yang menyinggung SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) ya ^_^ dan
Mohon maaf bila responnya lama :)